Sebuah Pengorbanan

Teatrikal yang menggonggong ketika itu sungguh pedas jika kita memaknainya. Bagaimana tidak, sebuah ilustrasi terkait bangsa ini disuguhkan dalam sebuah teatrikal yang terlihat biasa namun jika dikaji lebih dalam, tersirat satu titik temu yang sangat-sangat pedas rasanya.

Kala itu, dalam sebuah acara apel besar yg sekupnya Kabupaten yg terdiri dari 42 Kecamatan ada sekelompok anak muda yg menari-nari di depan ratusan peserta apel yg terdiri dari kebanyakan Pegawai Negeri Sipil.

Di pertontonkanlah pertunjukan tanpa suara yg tak jelas itu kepada para pejabat yg mengikuti apel. Andai saja, ucap salah satu panitia, kalau teatrikal itu menggunakan prolog maupun kata-kata yg jelas dari pemerannya, ditangkapilah oleh petugas kepolisian pemeran teatrikal tersebut.

Tapi itulah sebuah pengorbanan dari anak-anak yang rela mempertunjukan keahliannya tanpa dibayar dengan nilai rupiah yang begitu tinggi. Padahal jikalau para peserta yang notabene kumpulan para pejabat itu tahu makna dari sebuah teatrikal yang dipertontonkan dihadapannya, sudahlah aura kemarahan akan membumbung tinggi disekujur tubuhnya.

Penasaran apa isi dari teatrikal yang disebutkan di atas? Intinya seperti ini, ketika pemimpin memperebutkan suara rakyat dengan nilai rupiah, maka rakyatpun akan memilih pemimpin yang lebih besar rupiahnya. Lama-lama rakyat juga bosan disuguhi kepemimpinan seperti itu, hingga pada akhirnya rakyat mengkudeta pemimpin-pemimpin tersebut dan berhasil mengurungnya.

Lantas setelah itu tidak ada kepemimpinan, bukan senang yang terjadi, justru rakyatpun jadi kebingungan harus tunduk dan mengikuti aturan siapa. Berpecah belahlah satu sama lain, rakyat saling serang untuk mempertahankan hidupnya.

Ketika kondisi itu terjadi, datang seorang ratu adil yang mempersatukan mereka dan mereka pun hidup damai.

Entri ini ditulis dalam Pengalaman dan di-tag oleh Mamat Munandar. Buat penanda ke permalink.

Tentang Mamat Munandar

Mamat Munandar "Matmund Newbie" (lahir di Sumedang, Jawa Barat, 28 Oktober 1990) adalah seorang blogger, penulis, fotografer, serta mantan wartawan Sumedang Ekspres (Koran Harian Pagi Sumedang, Lokal, Jawa Pos Group) dan juga mantan kameramen di SMTV (Televisi Swasta Lokal di Sumedang, PT. Sumedang Televisi Utama, Jawa Pos Group).