Maling yang Jujur

Jika kamu mendengar kata “Maling” tentu kamu pasti teringat akan kalimat “Mana ada maling yang mau ngaku” bukan.??? Namun sadarkah kamu jika kalimat tersebut akan menjadi sebuah senjata tajam yang menjadi keuntungan bagi si “Maling”.??? Lho koq bisa.??? Bingung kan.??? Karena itulah penulis pada artikel kali ini akan memulai obrolan ringan namun meski ditanggapi dengan serius. Tapi tenang saja, kamu tidak perlu tegang yang berlebihan ^_^.

Coba perhatikan dengan seksama kisah berikut ini, alkisah diceritakan pada suatu malam Dion sedang tidur pulas dikamar rumahnya yang serba gelap karena hanya lampu ke teras luarlah yang menyala. Pada malam yang sama ada seorang maling yang berniat untuk masuk ke rumah Dion (jangan tanya mau apa si maling itu -_-“). Dengan santainya si maling mulai meraba satu-per-satu jendela yang ia anggap mudah untuk dimasuki tanpa memerlukan sebuah kunci. Perlahan dengan langkah yang teratur berjalan dari suatu jendela yang terkunci ke jendela lain dirumah Dion. Sekitar 10 menit berlalu akhirnya si maling berhasil menemukan jendela yang tidak terkunci, yakni jendela dapur Dion, dengan sedikit lega si maling mulai membuka jendela dapur yang tidak terkunci tersebut, dan sialnya ia menemukan beberapa palang besi kecil yang sengaja dipasang dijendela bagian dalam dapur tersebut. Dalam hati ia berkata, “Pantas saja tidak dikunci, didalamnya ada besinya”. Namun itu tak menyurutkan niat si maling untuk tetap mencoba masuk ke rumah yang tak seharusnya ia masuki melalui jendela dapur. Ia mula mengeluarkan sebilah perkakas untuk memotong besi yang seukuran dengan pensil itu. Ia memotong besi jendela dengan menggunakan gergaji besi yang tipis namun tajam, dengan perlahan ia memotong, tak lupa ia membundelnya dengan kain untuk menutupi suara gesekan gergaji yang dengan lambat laun mulai mematahkan besi yang keras tersebut satu-per-satu. Selang 30 menit waktu berjalan akhirnta si malng berhasi mematahkan beberapa palang besi tersebut dan langsung masuk dengan lengkingan kaki kanan yang mendahului anggota badan yang lain.

Suasana baru nan asing menjadikan ia lebih ingin lebih dalam mencari tahu secara mendetail seisi rumah. Sekali lagi tiada pegalnya si maling berjalan dengan tumit yang diangkat menyusuri setiap ruangan dan pada akhirnya tidak lama si maling sudah dapat menyimpulkan bahwa yang ada di rumah tersebut hanyalah satu orang (kamu tahu kan siapa nama orangnya.???). Dengan tanpa rasa takut si maling masuk ke kamar Dion dan membuka lemari pakaiannya, karena ia menyimpulkan benda berharga pasti disimpan dilemari pakaian (satu pelajarang buat kamu, “Jangan menyimpan benda berharga dilemari pakaian”), dan ternyata dugaan si maling akurat. Didalam lemari pakaian tersebut ia menemukan berbagai macam perhiasan yang terbuat dari emas, mulai dari cincin, kalung hingga gelang. (sedikit tes konsentrasi, “Dion adalah seorang lelaki, tapi ia tidur ditempat yang ada lemari yang tersimpan perhiasan wanita didalamnya. Jadi kesimpulannya adalah.???”). Tanpa membuang waktu si maling berhasil memindahkan seluruh perhiasan yang kira-kira berjumlah ratusan juta itu kedalam kantongnya (kejadian ini jangan kamu tiru dimanapun yah ^_^). Dan ketika hendak akan keluar dari kamar Dion, si maling melihat ke arah meja kecil disamping kasur, ia melihat ada dompet yang begitu tebal berwarna putih , tanpa fikir panjang si malingpun mengondol dompet tersebut (serakah amat jadi maling) dan langsung keluar dari kamar menuju ke dapur untuk keluar dari rumah melalui tempat yang sama. Saking gembiranya, tanpa ia sadari kalo ia menyenggol panci yang masih tersimpan diatas kompor dan membuatnya jatuh, gombrankkkkk nyaring suara panci jatuh yang juga membuat Dion bangun dalam keadaan ¼ sadar, tanpa nyawa yang terkumpul semua Dion bertanya, “Siapa tuh didapur.???”. Si maling mulai kaget dan cemas mendengar teriakan dari arah kamar yang ia ambil barangnya tadi. Dengan refleks si maling menjawab, “Maling pak”. Setelah mengeluarkan kalimat tersebut si maling kontan menutup mulutnya sendiri serta membodoh-bodohkan (menyalahkan) dirinya sendiri didalam hati. Kemudian Dion membalas terikan dari si maling, “Bohong lu, mana ada maling yang ngaku”. Si maling yang tadinya takut setengah mati dengan wajah yang sudah pias menahan nafas kini merubah mimik mukanya, membuat pipi yang semakin mengembang tak kuasa menahan rasa ingin tertawa. Namun rasa tersebut masih ia pendam mengingat keadaan ia sekarang masih sebagai maling yang hampir ketahuan. Akhirnya si malingpun menlanjutkan untuk keluar dari dapur tersebut, karena ia melihat dari kejauhan tidak ada gerak-gerik seseorang yang menyadari bahwa dirinya telah kemalingan dari dalam kamar.

Dan pada akhir ceritanya si maling berhasil menggondol perhiasan berikut dengan dompet yang utuh dengan uang didalamnya. Dan ketika Dion bangun dipagi hari ia baru sadar kalau ternyata ia baru saja kemalingan semalam. Dan langsung merubah anggapan bahwa “Mana ada maling yang ngaku” itu salah. Kini ia berfikir bahwa “Tidak semua maling tidak mengakui perbuatannya, adakalanya maling itu jujur”.

Kesimpulan yang dapat penulis buat dari cerita diatas adalah persepsi. Ubah persepsi kita mengenai suatu hal, adakalanya ketika kita melihat sesuatu dari sudut pandang kita tidak seharusnya langsung mengambil kesimpulan mengenai hal tersebut tapi meski melihat pula dari beberapa sudut pandang yang berbeda.

So, cukup sekian cerita yang dapat penulis sampaikan. Semoga membawa manfaat dan sedikit menghibur bagi kamu yang benar-benar membacanya dengan tartil ^_^. Tetap bicara lewan pena ya sahabat TulisanTulisan.COM ^_^.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.