Ku Sadari Setelah Dewasa

Hallo sobat TulisanTulisan.COM apa kabarnya.??? Kali ini penulis akan berbagi cerita orang dewasa lho, tapi tenang aja bagi kamu yang masih muda ini tulisan bukanlah hal yang menyangkut kepada sesuatu yang negatif. Bagi kamu yang usianya masih tergolong muda atau remaja, mungkin bisa baca-baca untuk persiapan sikap kedewasaan nantinya. Karena tulisan ini akan sedikitnya membahas sikap atau rasa kedewasaan yang pastinya dialami setiap orang. Lanjutkan membacanya yah sobat TulisanTulisan.COM

Pernahkah kamu (yang sudah dewasa) mengingat masa lalu ketika masih muda atau masih anak-anak.??? Kita sering merasa bahwa kita adalah anak yang paling hebat. Anak yang paling pintar disekolah dan anak yang paling dibutuhkan teman dalam bermain. Pemikiran imajinatif kita masihlah tinggi, misalkan kamu bercita-cita untuk menjadi seorang polisa. Maka tatkala orang tua bertanya, “Nak mau jadi apa kamu kalau sudah gede nanti.???” Akan serentak dijawab “Polisi donk pak”. Maka saat itu orang tua kita tersenyum. Dan kita merasa bahwa kita memang akan menjadi seorang polisi pada nantinya (meskipun tak tahu bahwa jika ingin menjadi seseorang itu memrlukan sesuatu yang tidak mudah), saat pergi ke toko mainan, kita langsung masuk ke tempat yang menjual alat-alat kepolisian (mainan), tanpa memikirkan berapa biaya yang meski dikeluarkan. Kemudian sesampainya dirumah, kita langsung memainkan alat-alat yang baru saja dibeli tadi, kita yang menjadi polisi dan ayah yang menjadi penjahatnya. Tentunya ayah mengalah dan kita tidak mengetahui bahwa ia melakukannya dengan sengaja kita menganggap bahwa kitalah yang benar-benar menang. Dalam setiap hal kita ingin dianggap bahwa kita yang terbaik, kita egois. Dalam hal makanan misalnya, tentu kita tidak ingin kebagian yang sisa atau sedikit bukan.???. Dan ternyata itu perlu dialami oleh setiap anak, setiap anak perlu dimanjakan. Setiap anak pasti ingin jika ia diperhatikan, diberi rasa sayang, diberi sentuhan kehangatan pelukan disetiap saat ia membutuhkan. Itu semua meski dilakukan oleh setiap orang dewasa demi menunjang masa depan anak-anak mereka. Tapi janganlah melakukannya secara berlebihan, karena sikap memanjakan secara berlebihan akan menjadikan anak memiliki mental negatif, egois tak akan peduli akan kepentingan orang lain.

Kini kusadari mengapa kita dimanjakan ketika masih kecil, kita dianggap sebagai seorang polisi sesungguhnya oleh kedua orang tua. Coba bayangkan apa jadinya jika ketika kita masih anak-anak, kemudian bercerita kepada orang tua bahwa kita ingin menjadi seorang polisi lalu orang tua memberi penjelasan bahwa masuk polisi itu ketat, badan meski bersih dan rapi, memiliki badan yang ideal, biayanya mahal, akan dikarantina selama beberapa bulan dan jauh dari mereka. Tentu saat itu juga logika mereka tidak akan masuk ke pemikiran kita yang masih penuh dengan imajinasi. Yang ada adalah rasa takut pada diri untuk menghadapi hal tersebut. Satu hal yang meski kamu ingin adalah untuk tidak menakut-nakuti anak kecil, karena sikap imajinatif mereka yang masih tinggi akan mengakibatkan mereka menjadi penakut nantinya setelah dewasa.

Saat masih sekolah, penulis mengalami apa yang namanya prakerin. Karena penulis merupakan lulusan dari Sekolah Menengah Kejuruan. Dan saat itu ber-praktek di salah satu Universitas swasta yang ada dikota Bandung. Setelah selesai bekerja dan ada waktu luang penulis beserta teman yang lainnya pada sibuk berinternet ria, mendownload film, facebook-an, maen game dan yang lainnya. Penulis sadar bahwa waktu itu ada dosen pembimbing yang melihat kegiatan kami disaat senggang. Dan ia tidak marah, sama sekali tidak mengucapkan perkataan buruk kepada penulis. Kini penulis sadari, ditempat penulis bekerja sekarang ada beberapa anak prakerin dari 2 SMK yang berbeda. Jika guru pembimbing mereka sedang keluar, mereka pada sibuk untuk mengutak-atik gadget mereka, bahkan adapula yang bermain alat musik (pasalnya tempat penulis bekerja emang tersedia alat-alat musik), ada yang santai-santai tiduran, nonton TV dan lain sebagainya (kantor dimana penulis bekerja masih dalam rumahan). Dan penulis sendiri tidak bisa memarahi mereka untuk tidak berleha-leha. Karena apa yang terjadi pada mereka kini pernah penulis rasakan waktu penulis masih prakerin dulu, dan kini penulis berfikir bahwa hal tersebut memang mereka butuhkan.

Ketika pulang ke rumah ada adik atau keponakan yang masih kecil-kecil, tanpa mereka berfikir bahwa kita pulang bekerja dalam keadaan yang lelah mereka langsung meminta uang untuk jajan. Tidak besar cukup dengan 2.000 rupiah saja mereka akan sangat gembira. Janganlah memarahi atau kesal terhadap mereka meski kita benar-benar dalam keadaan tidak punya uang, tapi tolaklah dengan lembut. Karena mereka memerlukan semua hal tersebut dimasa anak-anaknya, tentu kitapun sama mengalami hal tersebut dimasa anak-anak bukan. Ketika ada kakak atau ayah yang baru pulang kerja, “Pa mana oleh-olehnya” atau “Pa minta uang donk”. Dan ketika itu mungkin kamu masih ingat apa yang dilakukan oleh ayah kamu.

Kini kita sadari untuk mengalah dengan pengetahuan yang dimiliki oleh setiap anak, dalam bermain game misalkan. Mereka akan menangis jika mereka kalah, yang ada dalam benak mereka adalah sayalah yang pantas jadi juara. Padahal kita yang sudah dewasa mengetahui bahwa dalam sebuah permainan ada menang dan ada juga yang kalah. Jadi terpaksa kita yang mengalah :’( tapi jangan egois karena mereka memang memerlukan semua itu.

Jadi sekarang adakah kamu merasakan sesuatu yang berbeda ketika kamu masih kecil dengan sekarang yang sudah dewasa.??? Kalau penulis sendiri memang merasakannya, jika dulu ketika penulis masih kecil selalu dimanjakan kini penulis berusaha untuk memanjakan mereka yang masih kecil karena mereka memang membutuhkannya.

Mungkin sikap positif yang sebenarnya ingin penulis sampaikan adalah untuk tidak bersikap egois, ingin menang sendri serta mampu memikirkan keadaan orang lain. Mengalah bukan berarti kita kalah. Menggantungkan diri kita terhadap orang lain seperti anak kecil menggantungkan hidupnya kepada kedua orang tua mereka juga tersirat dalam bacaan diatas. Namun bagaimana jika sampai saat ini ada orang yang sudah dewasa tapi sangat memiliki sikap egois, tidak mau kalah, dan cenderung overknowledge terhadap orang lain.??? Yang mungkin mereka masih memiliki jiwa sebagai seorang anak kecil. Make it’s so simple.

Jadi sobat TulisanTulisan.COM yang sudah merasa dewasa maukah kamu mewariskan apa yang kamu dapatkan dari kedua orang tua untuk mereka yang masih anak-anak.??? Mungkin cukup sekian yang dapat penulis sampaikan, selebihnya mohon maaf apabila ada kekurangan atau kesalahan. Tetap semangat bicara lewat pena yah sobat TulisaTulisan.COM ^_^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.