Kanci Sondoro Putra : Perkenalan

Kanci Sondoro Putra, lahir di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 28 Juni 1988 yang sejak kecil menetap bersama kedua orang tuanya di Bandung, ibunya asli Sukabumi sedangkan ayahnya asli Jogja. Namun setelah lulus dari SMP pemuda yang kini berusia 25 tahun itu pindah ke Jogja untuk ikut bersama neneknya dan menempuh pendidikan SMA disana. Alasan mengapa Kanci Sondoro Putra atau biasa panggil Putra ini untuk pindah dan menetap bersama nenknya adalah karena kedua orang tuanya bercerai, ayahnya adalah seorang pegawai pabrik pengolahan bahan makanan dari mentah menjadi setengah jadi sedangkan ibunya yang kini kembali ke kampung halamannya dan berjualan makanan ringan didepan rumah bersama dengan adik permenpuan Putra yang saat itu masih berusia 8 tahun.

Ayah Putra kembali menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan. Sedangkan ibunya tetap mempertahankan status jandanya karena ia tidak mau jika hal yang tidak akan terlupakan dalam hidupnya terulang kembali. Ia kini fokus untuk membiayai anak permpuannya yang menimba ilmu di pesantren. Kejadian yang menimpa keluarga Putra membuat Putra menjadi anak yang mandiri, ketika ia masih sekolah di SMA ia tidak pernah meminta atau membebani biaya hidup kepada neneknya yang mantan seorang penari tarian tradisional khas Jogja dan juga sudah begitu tua. Untuk masalah biaya sekolah pada saat itu, ayah Putra tetap tanggung jawab atas pendidikan Putra. Ketika masih remaja, Putra seringkali membuka jasa pengetikan artikel, pembuatan banner, serta membuka les komputer untuk anak SMP mengingat ia memang mahir dibidang komputer. Putra juga merupakan anak yang cerdas, ia sangat menyukai pelajaran matematika, kemampuannya mengoperasikan komputer ia dapatkan secara otodidak. Ketika masih duduk di bangku SMP, Putra pernah meraih juara cerdas cermat untuk mata pelajaran matematika tingkat Nasional dan mendapatkan beasiswa disana. Meranjak ke jenjang SMApun ia terus berprestasi masih dari bidang matematika, itu tentu akan meringankan biaya sekolah pada saat itu karena Putra mendapakan beasiswa prestasi. Ia bercita-cita untuk masuk ke universitas ternama yang ada di kota Bandung, yakni ITB (Institute Teknologi Bandung). Selain ia cerdas secara akademik, ia juga mampu tumbuh menjadi seorang remaja yang mandiri yang tidak merepotkan nenek beserta kedua orang tuanya.

Putra memang seorang remaja yang jarang bergaul diluar, jika tidak ada acara ia selalu menghabiskan waktunya didalam rumah untuk belajar matematika. Mengingat untuk bisa masuk ke ITB perlu kecerdasan yang tidak biasa. Ia juga sering mesisihkan sisa dari bekerja sampingannya untuk ditabung, yang kemudian bisa ia gunakan untuk mendaftar ke ITB. Masalah biaya kedepannya ia masih belum memikirkan akan hal itu, yang terpentiang ia kini fokus untuk bisa masuk saja ke universitas tersebut.

[Bersambung]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.