Wahyu Wahyudi : Perkenalan

Wahyu Wahyudi, lahir di kota besar Jakarta pada tanggal 23 November 1990. Ia merupakan keturunan dari keluarga yang semuanya adalah lulusan sarjana Matematika. Dari mulai kakek dan nenek, serta ayah dan ibu hingga paman dan bibi adalah seorang yang menempuh pendidikan dibidang matematika. Ayahnya saja merupakan seorang dosen yang mengajar matematika di salah satu universitas yang ada di Jakarta sedangkan ibunya adalah aktifis kemanusian yang peduli akan pendidikan untuk anak-anak dan sering kali turun kejalanan untuk memberikan pengajaran kepada anak jalanan. Selain itu juga sering memberikan makanan untuk anak-anak yang ia ajar dijalanan tersebut. Ibu Wahyu ini bahkan juga membuka sebuah lembaga belajar non-formal untuk anak-anak jalanan, karena ia yakin bahwa anak-anak jalanan juga memiliki harapan untuk bisa tumbuh sebagai seseorang yang memiliki pendidikan.

Hal tersebut terbukti dengan adanya salah seorang siswanya yang begitu cepat menerima pelajaran yang ia berikan dan kemudian ia berikan beasiswa untuk bersekolah di sekolah SD yang didirikan oleh nenek Wahyu. Wahyu merupakan anak semata wayang dari keluarga yang serba ada. Hal tersebut menjadikan Wahyu anak yang sangat dimanja meski sebenarnya ia malu untuk dimanja apaligi didepan teman-temannya. Ayah Wahyu ketika Wahyu lulus SMA sudah berniat untuk memasukan Wahyu ke ITB, pilihannya adalah matematika tentunya. Ia tidak mau jika dalam kelurganya tidak ada satupun yang lulusan dibidang lain selain matematika.

Wahyu sendiri sebenarnya tidak mau masuk ke jurusan matematika meskipun secara akademik Wahyu memang sangat pintar dalam matematika, ia juga mewakili sekolahnya untuk lomba cerdas cermat. Wahyu bahkan bisa menyelesaikan pendidikan SMA hanya 2 tahun, karena ia mengikuti program khusus di SMAnya. Ia sangat ingin belajar akan musik, apalagi ia sangat suka dengan drumm meski tidak pernah sekalipun ia menyentuhnya, hal itu terjadi karena dari keluarga Wahyu sendiri tidak menyukai alat musik yang berisik. Mereka beralasan akan mengganggu konsentrasi saat belajar matematika. Ya apa boleh buat, Wahyu hanya bisa melamun untuk bisa memainkan drumm karena ia juga tidak mau mengecewakan dan membantah kedua orang tuanya. Namun ia tetap bermimpi suatu saat bisa memainkannya.

Wahyu merupakan remaja yang baik hati, setiap hari sepulang sekolah ia menyusul ibunya untuk turun ke jalanan atau ke lembaga non-formal untuk ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa. Ia juga turut mengajar di lembaga non-formal yang didirikan ibunya karena memang masih kekurangan tenaga pendidik. Kesehariannya bersama anak-anak jalanan menjadika ia bertingkah laku seperti anak-anak. Ia juga sangat hobi makan hingga badanya melebar dan terlihat lucu karena ia bertubuh pendek.

Wahyu anak yang tumbuh dengan dikelilingi perangkat-perangkat digital, seperti laptop, tablet, iphone dan lain-lain. Wahyu tidak begitu tertarik akan hal yang ada sangkut-pautnya dengan dunia digital. Mungkin hanya sesekali ia membuka laptop yang terhubung ke internet untuk mencari video orang yang sedang memainkan drumm.

[Bersambung]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.