Jangan Menilai Seseorang dari Sendal Jepitnya [Bag. 2]

Rama, Riki dan Asra merupakan ketiga remaja yang dijuluki oleh setiap orang dikampunya dengan sebutan “Trio Wek Dor”. Suatua malam di bulan Ramadhan mereka akan pergi menunaikan salat tarawih, namun dalam pelaksanaannya mereka selalu memilah dan memilih Mesjid mana yang akan mereka jadikan tempat untuk melaksanakan solat yang hanya dilakukan selama bulan Ramadhan itu. Setelah berunding, mereka memutuskan untuk melaksanakan solat tarawih di Mesjid yang jaraknya sekitar 2 kilo meter dari tempat mereka berada sekarang.

Mesjid Al-Fiqh adalah Mesjid yang akan mereka tuju sebagai target operasi, meskipun jarak yang mereka akan tempuh itu jauh, namun mereka bersiasat untuk menggunakan sepeda sebagai alat transfortasi. Mengapa mereka memilih Mesjid tersebut ketimbang Mesjid lainnya adalah karena Mesjid tersebut merupakan Mesjid yang besar yang mereka berfikir akan banyak remaja gadis yang melaksanakan solat tarawih disana dan juga banyak makan ringan yang mungkin saja akan mereka temui disana. Dasar tiga remaja yang tak tau malu, jangan tiru kebiasaan buruk mereka yang sahabat TulisanTulisan.COM. padahal sebelum mereka memutuskan untuk pergi ke Mesjid tersebut, Asra merekomendasikan untuk pergi ke Mesjid diperbatasan kampung, mengingat tempatnya enak juga nyaman dalam pelaksanaan solat tarawih disana karena Imam yang memimpinnya pun tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lama. Namun gagasan cemerlang yang diajukan Asra tersebut ditolak oleh kedua temannya, alasannya karena di Mesjid tersebut ada Doni, dia merupakan remaja nakal yang selalu menindas “Trio Wek Dor” disekolah maupun sata bertemu ditempat umum. Jadi si “Trio Wek Dor” ini malas untuk bertemu dengan Doni, bukannya mereka takut oleh Doni, tapi Doni banyak sekali pendukungnya, itulah yang merka takuti.

By The Way, azan sudah mau usai dikumandangkan dan “Trio Wek Dor” baru saja selesai mempersiapkan sepeda mereka. Mereka sadari jika mereka pasti akan telat untuk datang di Mesjid. Namun imbalan yang akan mereka dapatkan jika mereka solat tarawih di Mesjid yang mereka jadi kan target operasi menjadikan mereka untuk semakin semangat melaksanakan solat tarawih disana. Sungguh remaja yang tangguh akan sesuatu hal yang sifatnya negatif.

Sesampai mereka di Mesjid idamannya, ternyata solat Isya’ sudah berjalan 2 raka’at. Mereka tanpa berlama-lama segara masuk barisan makmum untuk ikut melaksanakan solat Isya’ yang ketinggalan 2 roka’at tersebut. Sehabis solat Isya’ selesai dilaksanakan, ibarat mata singa yang awas akan mangsanya, mereka memutar kearah samping kiri Mesjid dan ternyata apa yang mereka harapkan benar-benar menjadi kenyataan. Disana sudah berjajar aneka makanan ringan dimulai dari buah-buah segar, kue, bolu kukus hingga masakan yang digoreng yang begitu menggoda selera.

Waktu terus berjalan dan akhirnya solat tarawih selesai dilaksanakan tanpa adanya hambatan sedikitpun, dan kini tiba saatnya bagi merka dan jema’ah yang lainnya untuk rehat sejenak seusai melaksanakan solat tarawih yang berjumlah 11 raka’at. Tanpa merasa ragu dan malu, ketiga remaja “Wek Dor” ini langsung berlari kearah yang menjadi mangsa mereka semenjak masuk ke Mesjid tempat mereka tarawih. Dan beberapa orang lainnya juga ikut larut dalam memangsa makanan ringan yang disediakan gratis tersebut. Mereka bertika tidak langsung memakan mangsa mereka di dalam Mesjid, namun mereka membawanya ke luar Mesjid hal itu mereka lakukan karena memang dilarang oleh petugas kebersihan Mesjid untuk tidak makan di dalam Mesjid.

Mereka keluar dari Mesjid dan duduk di bangku seberang tempat meletakan sandal untuk jema’ah di Mesjid tersebut. Tidak banyak orang pada saat itu yang langsung keluar Mesjid seperti mereka. Hal itu terjadi karena jema’ah yang lainnya begitu menikmati suasana tarawih hingga ketika sudah selesaipun mereka masih betah tinggal didalam untuk sejenak meluruskan kaki yang terasa sedikit pegal.

Ekh si trio “Wek Dor” ini malah asik-asiknya duduk dibangku menikmati suasana malam yang dingin dilengkapi dengan makanan yang secara perlahan satu persatu masuk kelubang mulut mereka. Lambat laun mereka semakin menikmati menu makanan gratis yang didapatkannya seusai solat tarawih, mereka juga mulai memilih makan apa yang akan dimakan terlebih dahulu. Tak lama kemudian tanpa mereka sadari bahwa mereka sudah menghabiskan makanan yang mereka bawa dari dalam mesjid dan mulai satu persatu mengeluarkan suara perut “euuuuueueueuuuuu”, dalam hal tersebut Ramalah yang memiliki suaru perut terkeras diantara teman yang lainnya. Setelah mereka selesai dengan candaan suara perut mereka. Mereka mulai melanjutkan aksi jailnya, mereka mulai memandangi satu-per-satu sandal yang terparikir diluar Mesjid. ~Bersambung ke Bag. 3~

Mau tau apa yang mereka lakukan setelah memandangi satu-per-satu sendal yang terparkir dihalaman Mesjid.??? Ikuti terus cerita pendek bersambung serial “Jangan Menilai Seseorang dari Sendal Jepitnya”. Sampai jumpa di artikel berikutnya sobat TulisanTulisan.COM

Satu pemikiran pada “Jangan Menilai Seseorang dari Sendal Jepitnya [Bag. 2]

  1. Ping-balik: Jangan Menilai Seseorang dari Sendal Jepitnya [Bag. 1] | Tulisan Tulisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.