Jangan Menilai Seseorang dari Sendal Jepitnya [Bag. 3]

“Trio Wek Dor” adalah julukan yang dilimpahkan kepada 3 remaja yang sangat jahil dan selektif dalam pemilihan Mesjid untuk mereka melaksanakan solat Tarawih disana. Suatu malam setelah mereka usai melaksanakan solat tarawih di suatu Mesjid, mereka pergi duduk diluar Mesjid untuk menikmati suasana malam yang sejuk akan angin sepoi-sepoi. Mereka memandangi satu-per-satu sendal yang terpampang tak karuan dihalaman Mesjid. Apa yang akan mereka lakukan.??? Jangan su’uzon karena itu tak baik. Daripadi penasaran mendingan lenjutkan membacanya ^_^

Mereka mulai bermain tebak-tebakan sendal jepit, game yang satu ini adalah game ekslusif yang mereka sajalah yang memainkannya. Aturannya adalah setiap personil “Trio Wek Dor” harus memperhatikan salah satu sendal jepit yang ada dihalaman Mesjid tersebut dan menebak seperti apa orang yang memakainya. Game yang cukup unik bukan.??? Permainan bodoh tersebut selalu mereka lakukan selepas melaksanakan solat tarawih, jadi mereka selalu keluar lebih awal ketimbang jema’ah yang lainnya demi bisa melaksanakan game yang mereka buat aturannya sendiri.

Rama, memilih sendal jepit yang ada boneka kepala Hello Kitty dibagian penjepitnya, warnanya putih-pink dengan hak tipis. Kemudian ia mengutarakan seperti apa orang yang menggunakannya. Ia berpendapat bahwa orang yang menggunakannya pastinya masih muda, karena dilihat dari ukurannya yang kecil namun sedikit panjang. Ia juga berfikir bahwa yang memakainya pastilah gadis remaja cantik yang juga menggunakan kerudung warna pink lengkap dengan mukena yang dikantongi dengan kantong yang kecil seukuran dengan tempat nasi adiknya yang masih TK. Kita lihat apakah tebakan Rama itu akan tepat atau sepenuhnya meleset.??? Entahlah tetap baca deh pokoknya ^_^

Kemudian Riki orang kedua yang harus menebak, ia menjatuhkan pilihannya ke sandal warna hitam yang dihiasi dengan bunga dibagian penjepitnya. Yang membuatnya tertarik adalah gambar bunga teratai yang menghiasi pijakan orang yang menggunakannya. Kemudian ia juga menebak akan seperti apa orang yang nantinya akan menggunakannya. Kakak-kakak yang berusia sekitar 21 tahun adalah tebakan dari Riki untuk sandal yang menarik tersebut.

Dan yang terakhir adalah Asra, ia memilih sandal yang ada tali pada bagian belakannya. Kemudian ia menebak bahwa orang yang punya pastilah orang yang sangat tangguh, artinya agak sedikit tomboi, karena ia lihat sangat jarang wanita yang menggunakan sandal seperti itu, dan lagi sandal seperti itu biasanya digunakan oleh pendekar. Kemudian Rama bertanya, “Lho kalo begitu dia pasti cowo donk”. Dengan santainya si Asra menjawab, “Ya nggak bakalan lah. Tuh lu liat ada gambar bunga dibagian talinya”. Hanya dengan jawaban seperti itu Rama sudah bisa faham.

Dan kini tibalah saat-saat menegangkan karena satu-per-satu jema’ah mulai keluar dari Mesjid dan mulai memakai sandalnya masing-masing. Wajah tak asing keluar pertama kali dari dalam Mesjid, Yanto dia adalah teman sekelas dari Asra yang keluar pertama kali dari dalam Mesjid dan kemudian menghampiri Asra yang sedang duduk menatap kearah dirinya. “Ekh udah keluar aja lu” sahut Yanto untuk Asra. “Iya sih udah lumayan lama koq”, balas Asra. “Pulang yuk, ngapain juga kalian masih disini, entar kemalaman lho pulangnya. Ini kan udah mau jam 9”. “Ntar dulu deh, bentar lagi. Kita lagi dalam puncak permainan nih” balas Asra. “Emang permainan apa sih, serius amat.???”, Yanto bertanya. “Ntar deh gua jelasin”, balas Asra.

Dan ada seseorang yang menggunakan sendal jepit pertama kali yang ditebak Asra. Yakni sandal jepit lengkap dengan tali pengikat dibagian belakang. Dan ternyata dia adalah seorang laki-laki, “Hahahah mampus lu. Tuh kan apa gua bilang yang pake pasti cowo”, galak tawa Rama menertawakan Asra yang menjawab salah. Wajah tak kuasa menahan malu dan rasa ingin tertawa terlihat dari wajah Asra dan pada saat itu juga Yanto kebingungan, namun ia masih penasaran dan tetap memperhatikan merek bertiga. “Ada apa sih.???”, tanya Yanto yang kebingungan namun tak ada satupun yang membalasnya. Kini giliran tebakan dari Rama, ada seorang wanita yang memakai sandal berwarna pink yang ada boneka kepala Hello Kitty dibagian penjepitnya dan ternyata oh ternyata ia adalah seorang nenek tua yang sudah tersisa enam gigi dibagian depan antara atas dan bawah. Namun dari wajah terlihat tidak begitu tua, sekitar 40 tahunan lah. “Owghh tebakan gua juga meleset Ra. Tapi lebih mending tebakan gua donk ketimbang tebakan lu”, sinis Rama berkata. “Mending apanya, makan tuh emak-emak tua yang udah sisa enam gigi”, Asra membalas ledekan Rama. Si Yanto makin bingung sebenarnya apa yang tengah terjadi dan apa yang dimaksud dari obrolan teman-temannya. Dan lama-kelamaan sandal mulai ditemukan pemiliknya dan diajak untuk pulang, namun hingga tinggal tersisa beberapa sandal, tak ada satupun orang yang memakai sandal hasil tebakan dari Riki, yakni sandal warna hitam lengkap dengan hiasan bunga dibagian penjepitnya. “Jiah sandal jepit tebakan gua gak ada yang nyangkut tuh”, suara kesal Riki. “Owh dari tadi gua perhatiin rupanya kalian semua lagi pada merhatiin sandal toh. Ya udah gua pulang duluan yah”, kecewa Yanto. “Iya to, sono aja kalo lu mau pulang duluan”, sahut Asra. Setelah beberapa lama setia menyaksikan jalannya pertandingan, akhirnya ada juga orang yang memakai sandal hasil tebakan dari Riki, dan ternyata yang memakai sandal tersebut adalah ibu Ira, guru matematika disekolah mereka bertiga. “Jiah, itu sandal bu Ira toh”, Riki berkata. Kemudian si ibu Ira yang melihat kearah mereka bertiga tersenyum dan bilang, “Kalian lagi pada ngapain.??? Belum pulang.???”. “hehehehe belum bu” balas Rama. “Ya udah kalo gitu ibu duluan yah” ibu Ira pamit. “Owh iya iya bu silakan”, balas mereka bertiga.

Baru sadar jika ternyata sandal di halaman Mesjid itu tersisa 2 pasang. Riki mengajak kedua temannya untuk melakukan tebakan yang terakhir. “Liat tuh pasti sendal yang terakhir itu punya penjaga mesjid deh, menurut kalian punya siapa.??? Ayo kita tebakan lagi”. “Semua orang juga tau kalo itu sendalnya penjaga mesjid cebol”, balas Asra. “Tapi kan Ra itu ada dua”, sahut Riki. “Ya temennya si penjaga Mesjid lah”, ringan Asra menjawab. Dan ternyata setelah penjaga Mesjid keluar dengan membiarkan Mesjid dalam keadaan gelap dan terkunci, ketiga remaja iseng itu tercengang ketika melihat si penjaga Mesjid tersebut keluar dengan membawa anak gadis cantik yang tinggi dan memiliki tahi lalat dibagian pipi bagian kanannya. Mungkin itu adalah anak dari si penjaga Mesjid, melihat kearah sandal yang digunakan gadis cantik itu, mereka tambah tercengang jika ternyata sandal yang digunakan gadis yang memakai kerudung berwarna abu itu adalah sandal jepit biasa yang berwarna putuh polos tanpa hiasan apapun.

Dan dari saat itu mereka berfikir dan sudah mengkhusukan diri untuk tidak memainkan permainan “Tebak Sandal Jepit” lagi. Karena tidak semua perempuan bisa dinilai dari sandal jepit yang mereka gunakan. [TAMAT]

Satu pemikiran pada “Jangan Menilai Seseorang dari Sendal Jepitnya [Bag. 3]

  1. Ping-balik: Jangan Menilai Seseorang dari Sendal Jepitnya [Bag. 2] | Tulisan Tulisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.