Serunya Mandi di Tengah Sawah

Hallo namaku Rina, aku masih duduk dibangku SD. Usiaku baru 10 tahun. Aku lahir di kampung daerah Jogja, karena dulu ayah dan ibuku lama menetap disana hingga akhirnya memutuskan untuk pindah ke Bandung saat usiaku 7 tahun. Hal itu menjadikan aku selalu kangen akan masa-masa didaerah asalku. Daerah perkampungan yang sejuk, jauh dari kebisingan suara kendaraan, dan asap polusi yang mencemarkan udara.

Liburan awal Ramadhan tahun ini, ayah dan ibu berencana untuk mudik. Hal tersebut selalu kami lakukan setiap tahunnya, dari mulai awal Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, hingga Idul Qurban. Aku menyambutnya dengan rasa gembira tentunya. Hal itu karena kini kakek dan nenek mendirikan sebuah peternakan ayam kecil-kecilan. Yang didalamnya terdiri dari sekitar 15 ekor ayam pedaging dan 10 ekor ayam petelur. Aku sudah tidak sabar untuk bisa melihat kandang ayam berikut ayam-ayam didalamnya yang kata nenek ketika ditelpon beratnya sudah lebih dari 1 kilo.

Singkat cerita kami berangkat dari Bandung sekitar pukul 8 pagi hari Senin dan tiba di Jogja sekitar pukul 3 sore, kami berangkat dengan menggunakan mobil lama milik ayah. Jalanan sangatlah macet, mungkin itu juga karena semua orang memikirkan hal yang sama seperti yang kami fikirkan. Sesampainya dirumah Jogja, nenek menyambutku dengan ramah, saat itu kakek sedang pergi ke kebun untuk merawatnya. Ayah dan ibu langsung sungkem begitupun diriki, haru biru terpancar dari wajah nenek yang sudah tidak muda lagi. Selembar demi selembar rambut putihnya aku temukan disetiap tempat mulai dari kursi, sisir, pakaian dan di tempat lainnya. Rasa bangga dalam diriku menggoliath dalam diriku, aku bangga akan kakek dan nenek, diusianya yang sudah menginjak 7 dekade mereka masih sanggup untuk tidak mensusahkan anak-anaknya, apalagi kakek yang masih sanggup untuk mengurusi kebun yang lumayan luas.

Benar saja, tanpa berlama-lama nenek langsung memberitahuku mengenai ayam-ayam dipeternakan sederhananya, nada bicaranya sama seperti yang aku dengar ditelpon. Aku langsung pergi ke halaman belakang untuk melihat apa yang nenek ceritakan. Dan benar saja, ayam-ayam yang sudah membengkak karena asupan makanan yang hampir aku sendiri tidak mampu untuk mengangkatnya. Tercium bau yang tidak enak merupakan hal yang wajar ada didalam kandang. Ayam petelur ukurannya lebih kecil ketimbang ayam pedaging, begitulah yang dikatakan nenek. Sebelah barat aku melirik ada sesuatu yang berbeda dengan tahun sebelumnya di sawah nenek. Ternya disana kini ada sebuah tempat tertutup untuk mandi, aku berjalan kearah tempat mandi itu dan nenek memberitahu bahwa tempat mandi itu baru saja kakek buat sekitar seminggu kebelakang. Tempatnya memanglah kecil, namun sangat nyaman untuk mandi dan meskipun itu di tengah sawah namun tempatnya sangatlah tertutup oleh bilik bekas karung. Airnya jernih karena diambil dari sumur, hanya ada terdapat sebuah baskom berukuran sedang lenkap dengan perlengkapan mandi yang lainnya.

Rasa ingin mencoba kamar mandi baru nenek itu membuatku tidak sabar lagi untuk menahannya. Hingga pada akhirnya sekitar pukul setengah lima sore aku mandi. Aku menikmati mandi dengan nuansa persawahan yang mana itu merupakan hal baru dalam hidupku. Setelah mandi aku berganti baju dan tidak lama kemudian kakek pulang dari kebun. Ia membawa singkong yang sangat besar, kira-kira ukurannya sebesar betis kakiku. Hal itu kakek lakukan karena kakek tahu aku dan keluarga yang lainnya akan datang untuk munggahan. Tidak hanya singkong saja, tapi kakek juga membawa pisang dan yang paling aku suka kakek membawa jeruk. Meski jeruk tersebut bukanlah jeruk yang kualitasnya bagus namun aku sangat suka dan kakek tahu akan hal itu, makannya ia membiarkan pohon jeruk yang hanya berbuah tidak lebih dari 10 buah itu tetap hidup.

Selang beberapa saat, paman Anto datang dengan membawa tas besar digendongnya. Ia adalah adik dari ayah yang kini masih kuliah di salah satu universitas yang ada dikota Jakarta. Ia datang dengan mengendarai motor jadul kesayangannya. Seperti biasa, ketika ia melihatku ia langsung mencupit pipiku seperti biasanya dan merusak gaya beramputku, ia buat ramput yang baru saja aku keramasi ini menjadi berantakan. Ia memang sangat suka menggodaku, tapi disisi lain ia juga orang yang baik. Bahkan setiap hari ulang tahunku ia selalu saja menyempatkan waktu di kesibukan kuliahnya untuk mampir ke Bandung memberiku hadiah boneka Hello Kitty warna pink yang teramat aku sukai.

Tiba saatnya menjelang penentuan awal bulan Ramadhan dan kala itu pemerintah menentukan bahwa awal Ramadhan jatuh pada hari Senin. Setelah Isya’ kami beserta keluarga pergi ke Mesjid dekat rumah untuk melaksanakan salat tarawih hari pertama. Dan disana Mesjidnya penuh, muda-mudi, tua-anak, ikut melaksanakan tarawih hari pertama. Mesjid terbelah menjadi dua, skat paling depan diisi oleh kaum lelaki sedangkan kaum wanita berada dibalik tirai yang menutupi keduanya. Seusai melaksanakan tarawih, ada ceramah yang diisi oleh guru besar dari pesantren kampung sebelah. Kami pulan tarawih sekitar pukul 9 malam. Sesampainya dirumah aku langsung pergi ke tempat tidur agar nantinya tidak kesiangan waktu santap sahur.

Tetesan air aku rasakan ketika aku masih dalam mimpi, aku kira itu air hujan yang menetes di pipiku. Aku hanya berfikir jika atap kamar ada yang bocor, tapi aneh sekali tidak ada suara hujan kala itu. Suara cengengesan mulai terdengar dan ternyata itu keluar dari mulut paman Anto. Dan ternyata dialah yang menetesi wajahku dengan air untuk membangunkanku, “Ugh dasar paman. Jahil sekali sih” keluar kata tersbut dari dalam mulutku yang manyun. “makanya cepat bangun, udah jam 4 tuh. Ayo kita sahur” ajak paman Anto. Akhirnya aku bangun dan pergi untuk mencuci muka. Dan tibalah saatnya untuk santap sahur, aku lihat disana banyak sekali jenis makanan yang dipajang. Mulai dari rendang, sayur bayam, hingga perkedel jagung. Sungguh santap sahur yang sangat aku nikmati, setelah selesai makan tidak aku lihat adanya sisa dari perkedel jagung diwadahnya, ternyata sudah habis oleh paman Anto. Dia memang sangat menyukai makanan yang terbuat dari tepung terigu yang digoreng bersama jagung sayur manis didalamnya.

Tidak akan aku tidur lagi setelah santap sahur, aku pinjam hp pintar milik paman Anto untuk bermain game. Aku begitu asiknya bermain game hingga tiba saatnya waktu imsak, dan ketika peringatan imsak dikumandangkan di Mesjid aku langsung meneguk minuman terakhirku dan melanjutkan kembali bermain game. Tak lama kemudian suara azan dikumandangkan, dan tanpa berlama-lama lagi aku pergi ke kamar mandi nenek yang baru untuk mandi pagi. Karena aku tahu, mandi pagi di Jogja akan terasa begitu menyegarkan tubuhku. Suasana berbeda kini aku rasakan, perbedaan antara sore dengan pagi hari. Kini suara kodok terdengar begitu keras dan saling balas satu sama lain bak seperti orang yang sedang berdemo. Tapi itu tak mengurungkan niatku untuk mandi, yang ada aku sangatlah menyukainya. Karena suasana mandi ditengah nyanyian kodok disawah mungkin hanya akan aku rasakan di tempat neneku. Aku mandi disana dengan suasana hati gembira hingga tiba-tiba ada kodok kecil yang lompat dan menempel di pundaku. Serentak aku langsung teriak dan mengoyah-goyah bilik kamar mandi. Serentak ayah dan paman Anto yang waktu itu ada didapur berlari kearahku, ayahlah yang pertama menyelimutiku dengan handuk yang aku gantungkan. “ada apa nak.??? Kamu gak kenapa-napakan.???” tanya ayah. “Tidak ayah, tidak ada apa-apa. Tadi hanya saja ada kodok yang loncat kearahku” jawabku dengan nada ketakutan. Mendengar hal tersebut paman Anto malah menertawakanku, ia tertawa sambil menunjuk ke arahku. “Hahahahaha, itu pangeran kodok yang lagi mencari putri cantik” kata paman Anto. Tak kuasa aku menjawab dan hanya cemberut. Tak lama kemudian ibu datang, bertanya apa yang sedang terjadi. Dan paman Anto menjelaskan apa yang sedang terjadi dengan nada bicara yang diplesetkan. ~TAMAT~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.