Bapak yang Senantiasa Tersenyum

Dikisahkan hidup seorang yang telah berusia sekitar 40 tahun namun masih bujang, namanya adalah Pak Andi. Ia adalah seseorang yang sederhana lagi ramah, ketika berjalan ia selalu menundukan kepalanya yang menandakan bahwa ia adalah seorang yang rendah hati. Tersenyum adalah sesuatu yang selalu melekat dalam dirinya ketika bertemu dengan orang lain baik itu yang dikenalnya ataupun yang tidak dikenalnya. Ia adalah orang yang hanya sedikit bicara, tapi banyak tersenyum. Kalaupun berkata pastilah dengan perkataan yang sangat lembut dengan nada bicara yang pelan dan berkesan berhati-hati. Bahkan ketika berbicarapun ia tetap saja terlihat berseri, seperti halnya orang yang sedang tersenyum. Wajahnya begitu cerah lengkap dengan bekas cukuran kumis dan janggut, giginya putih bersih dan mata yang sedikit sipit rupanya masih belum mampu menarik perhatian seorang wanita untuk ia nikahi.

Ia bekerja sebagai seorang kantoran yang bekerja pada sebuah bank swasta sebagai staf administrasi. Ia bukanlah orang yang senang menonjolkan dirinya juga bukan seorang pendiam yang menunggu suruhan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Ia terbilang sebagai seorang pegawai yang berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Pakaian rapi, datang tepat waktu, bekerja keras adalah karakter yang melekat dalam dirinya. Setiap akhir pekan ia bersama dengan kawan sekantornya selalu pergi untuk makan malam bersama, karena kawan sekantornya tahu kalau dialah satu-satunya diantara mereka yang belum menikah. Seringkali Pak Andi dijodohkan oleh kawan-kawannya itu namun takdir berkata lain, masih sampai saat ini belum ada satupun wanita yang terpikat padanya. Tidak jarang kawan-kawannya menjadikan status lajangnya sebagai bahan candaan dikala hari suntuk, namun ia hanya tersenyum tanpa melontarkan sepatah-katapun.

Dari keluarga, ia juga seringkali dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk segera menikah, namun ia masih saja tak mengeluarkan sepatah kata untuk mengelak dan ia justru hanya tersenyum. Sungguh perjaka tua yang murah senyum. Alih-alih merasa risi dengan paksaan kedua orang tuanya juga teman-teman sekantornya, ia memberanikan diri untuk berkenalan dengan seorang apoteker yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Karena sempat suatu hari ketika ia membeli obat untuk ibunya ia melihat jika apoteker tersebut terpikat kepadanya begitupun ia. Dengan langkah yang gugup ia pergi kesebuah rumah makan yang memang sudah menjadi langganan bagi si gadis apoteker tersebut untuk makan siang. Benar saja kala itu, disaat sedang istirahat siang, gadis apoteker tersebut tengan menikmati makan siangnya bersama dengan apoteker yang lainnya. Tanpa berlama Pak Andi memesan sepiring nasi lengkap dengan lauknya, ia duduk disebelah meja para gadis apoteker. Tak lama kemudian gadis incarannya itu menatap kearahnya dan tersenyum. Memerahlah pipi Pak Andi kala itu tak kuasa menahan rasa malu dan gembira.

Seusai makan siang Pak Andi mulai mengulurkan tangannya bermaksud untuk berkenalan, sang gadis apoteker menyambutnya dengan senyuman. Berkenalanlah mereka, Vivi adalah nama apoteker berambut hitam lurus sebahu itu. Sampailah satu hari itu mereka habiskan untuk berkenalan sampai-sampai Pak Andi berhasil mendapatkan nomer hp si gadis apoteker tersebut. Keesokan harinya Pak Andi melihat gadis dambaannya itu diantar oleh seorang lelaki dengan motor matic, hal tersebut lantas mengurungkan niat Pak Andi untuk melangkah lebih jauh lagi. Namun Pak Andi bukanlah tipikal orang yang kalah sebelum berperang, seperti kemarin di rumah makan ia menanyakan pada si gadis apoteker siapa lelaki yang mengantarnya. Dan si gadis apoteker itu menjawab dengan ringan sambil tersenyum bahwa lelaki tersebut adalah tunangannya. Berat hati mendengar hal tersebut, Pak Andi hanya mampu tersenyum. Tak ia tampakan diwajahnya rasa kecewa, begitupun sang gadis. Ia tersenyum polos tanpa berfikir apa maksud dari pertanyaan Pak Andi tersebut.

Selesai makan Pak Andi membayarkan makanan yang dibeli sang gadis, sempat ia menolak namun Pak Andi tetap memaksakan. Bukan apa hal tersebut ia lakukan untuk menutupi rasa curiga dari sang gadis. Dengan pipi yang agak kemerah-merahan sang gadis mengucapkan terima kasih banyak kepada Pak Andi atas makanan yang ia bayarkan. Gagal lagi Pak Andi mendekati seorang gadis yang ia maksudkan untuk diajar serius membina rumah tangga. Ia berfikir tampaknya ia kurang begitu pengalaman dalam memikat seorang gadis. Namun ia tetap berbesar hati dan berfikir positif bahwa hal tersebut memang belum saatnya. Kembali ke tempatnya ia bekerja, ia melewatinya dengan tetap penuh senyum begitupun ketika pulang ke rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.