Cerita dari Mimpi : Bertemu Guru Olah Raga

Hallo sobat TulisanTulisan.COM, apa kabar.??? Kali ini penulis akan berbagi cerita yang diankat dari mimpi yang penulis alamai pada suatu siang. Entah apa yang istimewa, tapi rasanya penulis begitu ingin membagikan kisah mimpi ini dan sampai sekarang masih terbayang-banyang akan mimpi yang penulis alami tersebut. Mimpi tersebut adalah mimpi dimana penulis bertemu dengan salah satu guru olah raga ketika penulis duduk dibangku SMK. Padahal tidak ada kenangan yang begitu manis atau apapun yang bisa dikenang antara penulis dengan guru tersebut. Semuanya berjalan seperti biasanya dikala penulis masih duduk dibangku SMK. Daripada penasaran mendingan lanjutkan membacanya.

Selepas melaksanakan berbagai kegiatan dari mulai sahur penulis mulai merasa sedikit lelah dan kantung ditengah siang bolong, dan rasanya kala itu mata ini ingin direhatkan sejenak. Maka berbaringlah penulis diatas kasur untuk menikmati suasana tidur siang. Tak seperti tidur siang dihari-hari biasanya, penulis kala itu bermimpi yang tak bisa penulis lupakan sampai saat ini, rasanya ada sesuatu yang mengganjal dari mimpi tersebut. Rasa haru muncul dikala penulis menjadi pemeran dari tokoh mimpi yang penulis alami. Tidak ada yang istimewa dari mimpi tersebut, tapi tak kuasa rasanya penulis memendamnya sendiri. Ingin berbagi dengan orang lainnya, maka dari itulah tujuan penulis menuliskannya disini.

Penulis kala itu sedang berada disebuah sungai kecil dekat rumah bersama teman-teman, kami berenang dan mengumpulkan ikan-ikan kecil disaku untuk kemudian dilepaskan dan melihat betapa serunya melepaskan ikan-ikan kecil dari saku. Kala itu penulis melihat seseorang yang tidak lain adalah salah satu guru olah raga ketika penulis duduk dibangku SMK bersama dengan seorang anak perempuan menuju kesebuah kebun, lebih tepatnya pemakaman yang berada disebuah kebun yang melintasi persawaahan untuk menjangkaunya. Sebut saja guru olah raga tersebut bernama Pak Bobby (nama samaran), guru tersebut adalah tipikal guru yang memiliki pandangan berbeda dengan guru-guru yang lain. Pak Bobby lebih menekankan akhlak untuk para siswa disamping kewajibannya mengajar olah raga. Disetiap sebelum dan sesudah berolah raga pak Bobby selalu mengisi waktu untuk memberikan obrolan ringan baik itu yang menyangkut dengan sekolah, sistem sekolah, siswa disekolah hingga masalah nilai.

Sehabis penulis dengan teman yang lainnya selesai bermain di sungai tersebut, kami melanjutkannya dengan bermain kelereng di halaman belakang sebuah pabrik penggilingan padi tak jauh dari sungai yang tadi kami bermain. Tak lama kemudian si pak Bobby melintasi tempat kami bermain kelereng dan dia menatap kearahku. Kala itu rasa haru atau rindu tiba-tiba menyelimutiku dan tak kuasa rasanya untuk ditahan. Pak Bobby mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman, penulis bersalaman dengan beliau lantas mencium tangannya kemudian tiba-tiba penulis rangkul dan menangis tersendu-sendu dengan wajah dihadapkan kearah dadanya yang kala itu memakai baju trainning berwarna biru tua. Pak Bobby mengelus-elus kepala penulis tanpa mengucapkan sepatah katapun. Begitu harunya penulis rasakan, entah itu rasa rindu atau apa. Penulis sendiri merasa heran karena rasanya tidak ada kenangan baik ataupun buruk yang mungkin akan senantiasa dikenang.

Selang beberapa saat Pak Bobby melepaskan dekapan penulis, menuju ke pemakaman yang tadi dan masih bersama anak perempuan (entah itu anaknya atau bukan, penulis sendiri tidak tahu kalo Pak Bobby punya anak permpuan atau laki-laki). Entah apa yang menarik penulis, kala itu penulis mengikutinya, meskipun tempatnya begitu jauh. Meski melewati sawah yang gersang habis dipanen untuk bisa sampai ke tempat tersebut. Dan ternyata penulis melihat Pak Bobby sedang membersihkan sebuah pemakaman istrinya (dalam dunia nyata penulis tidak tahu apakah istri dari Pak Bobby sudah meninggal atau belum), terlihat dari caranya membersihkan dan menaburkan bunga serta air diatas pemakaman tersebut sepertinya Pak Bobby begitu mencintai istrinya itu. Air mata terlihat berjatuhan dari matanya, penulis mendekat dan Pak Bobby masih tetap tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Selang beberapa saat, Pak Bobby berjalan dengan tempo yang sedikit cepat menjauh dari penulis dan penulis berusaha untuk tetap mengejarnya, entah apa yang mendorong penulis untuk mengejarnya. Kemudian Pak Bobby berhenti disebuah lahan sawah dan duduk disana, penulis dibiarkannya menjauh. Kemudian sepertinya beliau ingin mendengarkan apa yang ingin penulis sampaikan. Dan penulis mulai bercerita apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan mengapa penulis menangis kala menemuinya. Penulis bilang bahwa penulis akan kuliah disalah satu universitas yang berada di kota Bandung (ini kenyataan), dari mulai penulis berkenalan dengan seorang sosok dermawan yang mau membiayai kuliah penulis hingga penulis lolos test mandiri di universitas tersebut dan saat ini sedang tahap registrasi. Setelah selesai mendengarkan cerita dari penulis, Pak Bobby menjauh dan penulis mengejarnya setelah ia berhenti untuk duduk, penulis lanjutkan bercerita meski dari jarak yang tidak dekat antara penulis dengan beliau. Terus menerus kejadian tersebut berulang. Beliau menjauh, penulis kejar lalu bercerita. Rasanya penulis sangat ingin menceritakan apa yang penulis alamai dalam dunia nyata penulis kepada beliau.

Hingga akhirnya Pak Bobby singgah pada sebuah gubuk yang didekatnya ada seorang anak lagi-lagi yang memegang petasan. Pak Bobby duduk disamping anak tersebut, tak lama kemudian penulis menyadari bahwa anak tersebut adalah teman sekelas penulis yang keluar ketika setelah naik ke kelas 2 SMK (naik dengan sarat pindah ke sekolah lain). Teman sekelas penulis tersebut terus menerus melempari penulis dengan petasan yang ia pegang, petasan tersebut meledak sebanyak 6 kali dibelakang penulis. Penulis diam dan tidak bergerak kala itu, sampai ledakan ke-6 dan tidak ada lagi ledakan penulis mulai mendekat dan bermaksud duduk disamping Pak Bobby, dan saat itu beliau mau diam dan tidak menjauh lagi. Tanpa pikir panjang menulis langsung kembali menceritakan perjalanan penulis untuk bisa kuliah dan beliau mendengarkan. Setelah selesai bercerita, tampak suasana hening kala itu dan tiba-tiba Pak Bobby yang hanya diam mulai ingin angkat bicara, “Lihat saja, kitalah yang akan sukses” hanya kalimat tersebut yang keluar dari mulutnya. Kemudian beliau dan teman penulis bermain PlayStation, game bola yang mereka mainkan.

Apa makna dari mimpi tersebut penulis kurang begitu tahu, tapi satu hal yang tak bisa terlupakan dari mimpi tersebut adalah betapa ada kaitannya antara mimipi dengan kenyataan, rasa haru yang berbaur dengan rasa rindu.¬†Wallahu A’lam Bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.