Cita Mulia Seorang Anak

Diskisahkan ada seorang anak yang hidup dengan kehidupan yang sederhana bersama kedua orang tuanya di sebuah desa kecil pinggiran kota. Namanya Adi, ia adalah anak yang baik dan juga rajin meski dikelas ia memang bukanlah anak yang berprestasi, namun ia juga tidak begitu buruk dalam pelajaran. Adi adalah anak dengan kepintaran yang sedang-sedang saja. Ia kini duduk di bangku SD kelas 3, disekolah ia terbilang sebagai anak yang selalu tepat waktu datang kesekolah, bahkan seringkali ia datang saat masih pagi-pagi sekali ke sekolahnya. Hal tersebut ia lakukan agar bisa membereskan kelas saat dalam keadaan kosong, karena membereskan kelas saat kosong akan terasa lebih mudah dan cepat.

Tidak hanya itu saja, Adi dapat dibilang sebagai aktifis kebersihan disekolahnya. Setiap kali ia melihat sampah langsung ia ambil untuk kemudian ia buang. Bahkan suatu pagi ia pernah mendapat penghargaan dari kepala sekolah dan diumumkan saat upacara. Disamping memiliki rasa bangga ia juga berfikir bahwa dirinya bisa dijadikan teladan bagi teman-teman yang lainnya untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Dan ternya hal itu memang terbukti, dihari yang sama setelah pengumuman tersebut terlihat banyak siswa yang lebih peduli akan kebersihan lingkungan. Tidak terlihat lagi ada sampah berceceran dimana-mana, namun namanya juga anak-anak selang beberapa hari semangat mereka mulai memudar untuk menjaga kebersihan. Terlihat banyak siswa yang masih membuang sampah sembarangan dan tidak dijaga, namun itu tidak termasuk Adi. Ia tetap berkomitmen untuk menjaga lingkungan sekolahnya apapun yang terjadi.

Suatu hari ketika pelajaran PKn, sang guru menanyai setiap siswa ingin menjadi apa mereka kelak. Karena materi untuk hari itu adalah materi tentang cita-cita. Dari pertanyaan ibu guru tersebut menuai beragam cita-cita yang dilontarkan, diantaranya ada yang bercita-cita menjadi seorang guru, dokter, tentara hingga presiden. Tatkala ibu guru bertanya pada Adi, “Adi sekarang giliranmu, apa cita-citamu nak.???”. Dan Adi lantas menjawab “Adi pengen jadi petugas kebersihan bu”. Serentak setiap anak dalam kelas tersebut tertawa, ada yang bilang bahwa itu adalah pekerjaan hina, petugas kebersihan kerjanya di tempat kotor dan bau, gajinya sedikitlah dan macam-macam cercaan lainnya yang tidak dihiraukan oleh Adi. Termasuk ibu guru yang sedikit kaget akan jawaban Adi lantas ibu guru menenangkan semua anak untuk berhenti menertawakan Adi dan menyuruh mereka untuk mendengarkan alasan Adi mengapa ia ingin menjadi seorang petugas kebersihan. “Sekarang Adi, coba Adi jelaskan mengapa Adi ingin menjadi seorang petugas kebersihan” tanya ibu guru. “Adi pengen menjadi petugas kebersihan karena Adi sering melihat sampah dimana-mana bu. Baik itu dijalanan atau dilingkungan seperti sekolah. Tampaknya masih banyak orang yang belum memahami betapa pentingnya menjaga kebersihan. Mungkin mereka hanya berfikir dari sisi negatifnya saja bu mengenai petugas kebersihan, tapi Adi yakin kalo petugas kebersihan itu adalah profesi yang mulia juga sangat dibutuhkan adanya” jawab Adi tanpa suara yang getir.

Mendengar jawaban dari Adi, serentak semua anak terdiam dan menundukan kepala. Kelas yang kala itu seperti pasar kini terlah berubah suasana menjadi hening layaknya jangkrik yang terinjak kaki. Termasuk ibu guru yang tercengang mendengar jawaban dari anak asuhnya, ia tak menyangka jika ada seorang anak yang masih kecil namun sudah mampu berfikir dewasa dan sejauh itu. “Tepuk tangan anak-anak untuk Adi” perintah ibu guru kepada anak-anaknya sambil mengeluarkan air mata tanda bahagia bercampur haru. Gemuruh tepukan tangan kala itu ibaratkan sedang berlangsungnya pertunjukan musik yang mampu membelah dunia. Riko teman sebangku Adi langsung memeluknya, sambil berkata “Kau hebat Adi, maafkan aku yah”. Ibu guru lantas memberikan sebuah tanda bintang dibagian pinggir nama Adi di buku absensinya, itu tandanya bahwa ada adalah anak yang memiliki prestasi yang tidak dimiliki oleh anak yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.