Sahur oh Sahur

Hallo sobat TulisanTulisan.COM, kali ini penulis akan berbagi kisah saat penulis kesiangan untuk bangaun sahur. Kejadiannya baru terjadi hari kemarin. Jadi ceritanya seperti ini, kala itu penulis yang tinggal dalam sebuah kontrakan tidur sendirian, karena teman kontrakan yang lainnya sedang ada acara untuk buka dan sahur bersama di suatu tempat. Alih kata penulislah yang meski menjaga kontrakan, karena takutnya ada sesuatu yang tidak diinginkan.

Kala itu penulis tidur malam sekitar jam 12 malam, penulis memasang dua alarm di handphone, yang pertama jam 3 dan yang ke dua jam 4 dini hari. Penulis memasang jam 3 agar punya waktu untuk menanak nasi dan jam 4 dini hari adalah jika penulis kesiangan maka akan membeli nasi di warung luar yang jaraknya lumayan jauh sekitar 10 menit perjalanan.

Tidur dengan pulas, penulis tidak merasakan bunyi alarm yang penulis pasang, bahayanya kedua waktu alarm yang penulis pasang tidak ada satupun yang mampu membangunkan kepulasan tidur penulis. Waktu itu penulis bangun sekitar pukul 04:30 dan masih ada waktu sekitar 4 menit lagi sebelum masuk waktu imsak. Tanpa membuang waktu penulis pergi keluar dengan langkah kaki yang lebar bermaksud untuk membeli roti ke warung, karena saat itu penulis pikir jika pergi ke warung nasi akan memakan waktu yang lebih banyak, sedangkan penulis tidak punya banyak waktu lagi.

Berputar mencari warung yang buka, ternyata tidak ada satupun warung yang buka dekat kontrakan penulis. Di daerah penulis tinggal ada satu warung yang pasti buka saat sahur, yakni dekat dengan warung nasi yang memerlukan waktu 10 menit untuk dicapai. Berlarilah penulis tanpa pikir panjang menuju warung tersebut, dan ditengah jalan suara peringatan imsak dikumandangkan di Mesjid-mesjid. Seperti terdorong penulis mempercepat lari dini harinya, benar-benar lari dini hari kala itu penulis rasakan.

Sesampainya di warung, sialnya kala itu hanya tersedia 2 bungkus roti yang tidak menarik untuk dikonsumsi. Namun apa boleh buat terpaksalah penulis membelinya dengan wafer lengkap dengan ari mineral. Seperti halnya orang yang belum makan 3 hari, penulis menyantap roti dan wafer tersebut dengan tergesa-gesa mengingat waktu Subuh yang semakin mendekat. Keluar dari warung dan baru beberapa langkah keluar, sialnya kala itu ada orang gila yang membentang-bentangkan kain serupa sal berwarna merah.

Melihat orang gila tersebut menjadikan penulis yang sedang makan sebagai objek penglihatan, penulis bersegera untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.  Menengok orang gila tersebut terus mengikuti, penulis langsung tanpa berfikir lagi untuk berlari. Lebih sialnya lagi si orang gila tersebut terus mengikuti, coba sekarang kamu bayangkan. Penulis pergi kewarung sambil berlari, sekarang pergi pulang dengan berlari pula, bedanya kali ini penulis sambil makan roti diikuti orang gila dan dikejar waktu Subuh. Sungguh akan menjadi sahur yang mengesankan dalam hidup penulis, sahur oh sahur.

Mana jalan yang menuju kontrakan penulis dari warung tersebut menanjak lagi, lengkaplah penderitaan ini. Untungnya dipertigaan jalan, si orang gila tersebut membelok. Penulis agak sedikit tenang karena berkurangnya satu penderitaan. Dengan nafas yang tersendat-sendat penulis minum air gelas minertal yang tadi dibeli. Tidak lama dari itu, suara azan Subuh dikumandangkan, berkesanlah sahur kala itu :’(.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.