Wahyu Wahyudi : Film “A Beautiful Mind”

A Beautiful Mind adalah film yang pertama tayang pada tahun 2001. Film ini mengangkat kisah yang matematikawan bernama John Nash yang memiliki sebuah kebiasan menciptakan beberapa karakter dalam kehidupan tidak nyatanya dan menanggapnya sebagai sesuatu yang hidup dan benar terjadi dalam dunia nyata. Hal ini menjadi perhatianku karena aku dan anggota keluarga yang lain adalah semuanya merupakan orang yang berkecimpung di dunia matematika.

Film ini merupakan film yang baik untuk ditonton, didalamnya terdapat kisah inspiratif yang mungkin akan memotivasi diri termasuk aku secara pribadi. John Nash yang memiliki ketertarikan akan pemecahan sandi membuatnya terjebak akan permainan pemikiran yang ia ciptakan sendiri yang pada akhirnya mengantarkan dirinya kepada kondisi yang terlepas akan pegangan dunia nyata atau dalam bahasa yang sederhana dikatakan gila.

Matematika, adalah kata yang tidak asing aku dengar. Hampir setiap hari, setiap menit kata tersebut terus muncul dalam ingatanku. Memang aku sendiri mengakui bahwa setiap hal dalam dunia ini adalah matematika. Ayah pernah bilang, jika saja satu detik seluruh manusia yang tinggal dibumi ini lupa akan matematika, pastilah akan terjadi kekacauan yang tidak akan terhindarkan terjadi dan berdampak besar. Bagiku matematika itu mudah, karena dari kecil ibuku selalu menyuapiku dengan rumus-rumus yang mungkin tidak akan setiap orang dapatkan dari sekolah sekalipun.

Meski sebenarnya aku merasa sedikit bosan melihat jajaran rumus matematika di setiap celah dinding rumah, namun apa boleh buat matematika merupakan bagian dari kehidupankun yang tidak dapat terpisahkan. Kembali bicara mengenai John Nash yang bisa kembali dari keadan terpuruknya, sebenarnya aku merasa sedikit miris akan hal yang menyangkut seseorang matematikawan jenius yang tergila-gila. Tidak sebentar penantian Alicia, istri dari John Nash untuk membuat suaminya kembali sembuh.

Untung aku tidak mendapati diri ini sama dengan apa yang dirasakan John Nash. Aku merasa matematika sebagai hal yang biasa meskipun secara tidak sadar kemampuanku dalam matematika telah melebihi kemampuan orang rata-rata yang belajar matematika. Yang mungkin karena itu tadi, aku dibesarkan di dalam keluarga yang menjadikan matematika sebagai seni dalam kehidupannya. Meskipun aku terkadang sedikit risi dengan ketidak-bebasan untuk berekspresi dibidang lain, musik misalnya.

Kepala bagian kiri lebih besar ketimbang kepala bagian kanan, tubuh tidak tumbuh dengan tingga serta cerita dari John Nash membuatku semakin takut akan matematika. Meskipun aku bisa namun aku yakin aku tidak akan bahagia. Dan meski dibilang menderita juga sebenarnya tidak sih. Tidak seperti derita yang dialami Alicia dan keluarga kecilnya, semoga semua itu tidak terjadi dalam keluargaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.