Cita dan Kemampuan itu Berbeda

Cita-cita adalah sesuatu yang didambakan seseorang untuk menjadikan orang tersebut menjadi sesuatu yang ia inginkan tersebut. Dengan menimba ilmu dijalan yang menuju cita-cita tersebut semisal dengan sekolah menjadi jalan yang memang harus ditempuh oleh seseorang demi mendapatkan citanya tersebut.

Dalam parjalannya, untuk menggapai sebuah cita-cita tidaklah semudah apa yang ada di dalam pikiran. Dalam prakteknya ada sebuah grafik naik-turun harapan dan kemauan serta godaan yang senantiasa menggoda. Seperti misalnya Andi, ia bercita-cita ingin menjadi seorang jurnalis. Ia kuliah mengambil jurusan yang ada kaitannya dengan dunia jurnalis. Tapi ia dalam kuliahnya itu Andi diharuskan mencari uang sendiri untuk membiayai kuliahnya sendiri dikarenakan orang tuanya sudah tidak mampu untuk membiayainya. Terpaksalah Andi harus bekerja sendiri untuk mendapatkan uang agar kuliahnya bisa terus dilanjutkan.

Andi bisa dan sangat terampil memainkan piano, ia bekerja paruh waktu disebuah cafe untuk bermain piano. Banyak pelanggan yang data ke kafe tersebut dan menyukai cara Andi bermain piano. Dari situ Andi mulai memiliki banyak penggemar dan ia memberanikan diri untuk mengikuti ajang mencari bakat sebagai seorang pianis. Dan singkat cerita kini Andi sukses besar sebagai seorang pianis dan banyak mendapatkan uang.

Dari cerita diatas kita bisa memunculkan beberapa pertanyaan, diantaranya apakah Andi akan kembali melanjutkan studi demi mencapai cita-citanya atau terus berkarya sebagai seorang pianis yang memang itu adalah kemampuannya.??? Tergantung seberapa besar kemauan yang dimiliki Andi, bisa saja ia berprofesi sebagai seorang pianis tapi disamping itu juga ia tetap melanjutkan studinya dan menjadi seorang wartawan yang sejak awal ia cita-citakan. Atau bisa juga ia tetap berkarya dibidang musik dan terus menggeluti piano sebagai sumber mata pencaharian.

Tentu hal ini bersinggungan antara cita dan kemampuan atau profesi. Kebanyakan orang bilang, ketika kita kuliah lalu kita mendapatkan pekerjaan yang sudah menjanjikan dan kita nyaman didalamnya maka kita tentu akan lanjut bekerja dan putus kuliah. Maka dari itu banyak juga para mahasiswa yang memang asal masuk kuliah tanpa memikirkan akan seperti apa dia untuk kedepannya. Yang terpenting sekarang kita kuliah tanpa ada jiwa ia berkuliah didalamnya. Meski secara akademik ia mampu untuk mengikuti pelajaran di kampusnya tersebut.

Ini perlu menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan akan seperti apa nanti kedepannya kita.??? Pernah berpikir, diluar sana ada banyak orang pintar yang mungkin saja bisa menjadi seorang jenius namun karena keterbatasan biaya ia tidak melanjutkan studinya dan lebih memilih bekerja sebagai seorang yang biasa-biasa. Tapi misalkan kita yang bisa kuliah berhura-hura didalamnya, yang penting dapat nilai kita lulus S1 dan seterusnya.

Tapi terlepas dari itu semua, kita kembalikan kepada pribadi masing-masing. Akan seperti apa kita nantinya dan apakah jalan yang akan kita tempuh, benar atau salah, berdampak/manfaat atau tidak dan lain sebagainya. Inti dari artikel penulis kali ini tidak lain adalah untuk sedikit membuka pemikiran, harapan dan masa depan. Pendidikan tentu sangatlah penting, maka dari itu sesuaikan apa yang kita cita-citakan dengan disesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki. Seseorang yang bekerja dengan sepenuh hati dengan apa yang ia ingini maka sesungguhnya ketika ia bekerja itu akan serasa bermain karena tidak ada beban pekerjaan didalamnya dan yang ada adalah kemampuan untuk menjalani pekerjaan tersebut sesuai dengan kemampuan yang ia miliki dan itu akan terasa mudah tentunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.