Kamu dan segala keabstrakanmu

Mentari hadir membawa udara yang cukup membuat tubuh ini menggigil. Ku bawa langkahku dengan setengah lesu menuju kampus. Dalam kondisi setengah pusing ku mengiyakan ajakan temanku untuk berangkat kuliah. Sambil membawa langkahku dalam alur perjalanan menuju kampus, ku tulis new message untuk seseorang.

“selamat pagiiiiiiiiiiiiii” sapaku dalam pesan singkat. Dengan segera ku tekan tombol send.

Sebetulnya sapaan seperti itu sangat tabu sekali untukku. Aku jarang menyapa seseorang. Tapi kali ini, aku melakukannya. Dengan segera ada balasan kembali dari orang tersebut. Ku buka…

“ Juga” balasnya.

What the hell. Juga saja? Sesingkat itu? Ck. Aku menelan ludah. Semalam ia masih sangat hangat memperlakukanku dengan segala perhatian lembutnya. Sekarang? Entah ada setan apa yang merasuk dalam tubuhnya. Dia menjadi tiba-tiba menyebalkan -_- apakah karena hari ini akan bertemu di kampus, ataukah… Ah sudahlah. Aku menjadi enggan untuk tersenyum. Sebuah ekspresi masam tiba-tiba hinggap pada raut wajahku.

Dia selalu begitu. Kadang terlihat. Kadang abstrak. Sulit ditebak. Tak ku sadari aku menebar dosa pada banyak orang pagi ini. Betapa tidak? Setiap orang yang ku lewati sepanjang perjalanan kampus tak ku lemparkan senyum andalanku seperti biasanya. Dengan kata lain, aku masih bertahan dalam kemasamanku pagi ini. Entahlah, balasan pesan darinya itu sungguh enggan buatku tersenyum.

Kala malam ia sungguh nyata. Kelembutan sikapnya menyelimuti malamku yang beku karena kepenatan siang. Namun siang? Tak ku temukan dia meski mataku melihat. Ya, tentu saja. dia terlihat tapi tak ku rasakan ada. Abstrak.

Ah, dia membuatku terlalu lama bermain-main dalam lamunanku hingga ku tak sadar langkahku sudah membawaku ke dalam gedung fakultas. Ah, lagi-lagi harus ku sadari ada puluhan anak tangga yang berjejer dan tentu harus ku lewati. Lagi dan lagi. Mau tak mau. Tentu saja. Oke. Ku naiki anak tangga itu satu persatu. Tentu dengan pikiranku yang masih dipenuhi dan hanyut karenanya. Ah, akhirnya sampai lantai 3. Tempat dimana kelasku berada. Tepat sekali.

Ku arahkan pandanganku yang buram pada beberapa orang di sudut sana. Aku tau tanpa kacamata aku tak mampu melihat jelas apapun yang terekam dalam retinaku. Tapi walaupun begitu, ke-minus-an mataku tetap dapat menangkap sebuah sosok yang sudah ku pastikan benar. Ya, dia. Siapa lagiiiiiiiiii. Meski tanpa kacamata kesayanganku, mataku selalu dapat menebak ada dia dalam ketidakjelasan pandanganku. Dia yang terlihat, tapi tak ku rasakan ada. Kamu dengan segala keabstrakanmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.