Curhat : Tuhan Tolong Aku

Udud

Udud

Beribu dosa pernah kulakukan, tak satupun dosa yang ku ingat hingga hari ini tuhan, karena saking egonya diriku ini sehingga apapun yang kulakukan semuanya seperti biasa saja, tanpa adanya kesalahan dan merasa benar sendiri.

Kusadari itu tuhan, hingga ku menuliskan diawal kalimat tulisan ini adalah sebuah pengakuan dari rasa bersalahku ini.

Namun ada satu yang ku heran hingga saat ini tuhan terhadap mereka. Mereka yang mengaku sangat berTuhan daripada orang lain.

Aku dan mereka sama berTuhan, pada satu Tuhan yang sama. Namun ketika mereka yang memiliki kekuasaan atas tangan-tangan Tuhan yang mereka pikul seakan diri ini tak berdaya melihat prilaku para pemangku kekuasaan itu.

Bagaimana tidak Tuhan, hanya karena mereka para big father berselisih, tak melihat bahkan tak memperdulikan para budak bawahannya yang selama bertahun-tahun taat kepada mereka.

Aku sangat kecewa kepada mereka Tuhan, para pemangku jabatan itu seolah tak menganggap keberadaanku Tuhan. Mereka terlalu asyik dengan uporia kepentingan mereka sendiri.

Sampai akupun tak sanggup ketika mereka berselisih, untuk melerainya. Justru yang ada adalah bentuk boikot terhadap kawan-kawanku yang sejawat, yang hendak menemuiku. Padahal aku dan kawanku tak bermaksud, bahkan tak mengerti akan urusan para big father yang berselisih itu.

Jelas ini merupakan diskriminasi berat Tuhan, tapi kenapa kau malah terus biarkan mereka untuk berkuasa Tuhan?

Tapi tak apalah Tuhan, aku anggap ini sebagai ujian dalam hidupku. Tapi kenapa kini kau malah menyalurkan pengalaman pahitku tatkala bersama para penguasa itu kepada saudara kecilku Tuhan?

Dulu aku hidup sengsara bersama para penguasa itu tuhan, lalu aku berharap para penguasa itu bisa berubah ketika saudara kecilku bersama mereka. Tapi apa yang terjadi Tuhan pada saudara kecilku sekarang? Aku menjerit (dalam hati) menangis semalam suntuk, mengingat saudara kecilku yang malang, ternyata sama perlakuan penguasa itu ketika dulu terhadapku dan pada saudara kecilku sekarang. Padahal memanusiakan manusia selalu mereka gaungkan disetiap materi yang mereka sampaikan.

Huft… Aku menangis lagi, sebenarnya apa maksud dari semua ini Tuhan? Apa dosaku ini hingga mereka melakukan hal itu pada diriku dan keluargaku.

Terlebih sekarang ini Tuhan, aku yang lemah, yang bisa saja keyakinan ini goyah. Merasa terkucilkan tatkala aku ingin memperbaiki keyakinan ini. Keyakinan yang bisa saja goyah kemudian menjadi tidak goyah karena siraman-siraman yang dilakukan secara rutin.

Tapiiii… Apakah tidak puas para penguasa itu mempermainkan nasibku ini Tuhan? Untuk minta itupun aku tak pernah kesampaian, padahal dari perwakilan para penguasa itu yang menyuruhku seperti itu.

Banyak alasan ini itu seperti aku ini anak kecil saja Tuhan disuruh nurut sama mereka, hanya karena permainan kata-kata mereka yang indah.

Ya sudah lupakan sajah Tuhan, ini cuma gurauan belaka yang tak mungkin memiliki makna. Mau aku ini bilang A ataupun B, bahkan sampai Z pun tetap mereka akan seperti itu.

Mereka selalu taat pada aturan dan bisa berbaris dengan rapih, tapi apakah mereka lupa bahwa sholat Jum’at itu juga selain syah walaupun hanya sebatas pakai sarung untuk menutup aurat, tapi sebenarnya ada keindahan-keindahan lain tatkala mereka sholat Jum’at dengan berpakaian rapi, pake wangi-wangian, hingga mereka terlihat elok dan elegan sehingga banyak orang lain terkagum-kagum kepada mereka.

Ya… Itulah Tuhan, aturan yang telah kau buat sangatlah sempurna, hingga sebuah negara ini bukan hanya berisi aturan-aturan belaka, akan tetapi didalamnya terkandung berbagai keindahan yang telah kau ciptakan.

Namun, tatkala mereka para penguasa itu tak menunjukan keindahannya dalam bernegara, maka terpaksa akupun selalu kasar terhadap mereka dan cukup taat pada aturan main yang ada. Sudah cukup hanya seperti itu saja hidup bersama mereka, hingga tak ada keindahan sedikitpun tatkala aku hidup bersama mereka, cukup sami’na wa ato’na dan aku dengan mereka bukan siapa-siapa. Untuk ini dan itupun bersama mereka asal berjalan sesuai aturan saja, terlebih dari itu lupakan sajah lah, raga ini hanyalah sebuah mesin yang sudah di create kode-kode, untuk bergerak raga ini kemana ia akan bergerak. Jadi tidak usah banyak pikiran, cukup sami’na wa ato’a hidup ini juga sudah pasti aman. Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.