Akhirnya Tepat Waktu

Bosen rasanya diam di dalam kamar terus, sendirian, hanya ditemani, satu komputer (PC) pake linux dan satu laptop di pasangi windows. Setelah dua hari mendekam disini, ingin rasanya menghirup udara segar yang pada intinya nanti akan menghirup udara buatan yang kelihatan berwarna putih.

Dikarenakan disini tidak diperkenankan untuk menghisap udara putih buatan itu, terpaksa harus keluar dulu mencari tempat yang aman agar bisa bernafas dengan lega. Maklum, bukannya tidak boleh, namun sebagai diri bagian dari sosial mereka, setidaknya harus bisa menghargai. Untuk itu dipilihlah tempat di ketib sambil makan bubur ayam disitu.

Bergegas pergi kesana sambil jalan kaki, lumayan pagi-pagi masih cerah, sekalian jalan-jalan santai. Batang yang bisa berasap pun mulai di beri api, hingga ditukang buburpun masih keluar asapnya.

Setengah mangkok bubur hampir habis, alhasil, perut jadi terasa aneh, entah kenapa, mungkin terlalu sensitif perut ini sehingga ingin mengeluarkan isinya dari bawah.

Kebayang, dari ketib menuju ‘kamar kecil’ di markas jaraknya lumayan jauh, pake angkot gak enak rasanya. Tapi, ada ide, sekalian silaturahmi dengan teman lama, rencananya minta bantuan untuk sebentar meminjamkan kamar kecilnya untuk membuang semua beban dalam perut ini.

Tuutt, tuuuttt, tuuttt, sareng saha? Mamat. Boleh pinjem kamar kecilnya? “Saya lagi gak di kosan,” jawabnya.

Teng ing eng…. Kaburrrrrr, untuk mengejar intruksi dari perut yang meminta isinya ingin segera keluar. Langkah demi langkah, terus di percepat dari langkah satu ke langkah berikutnya, terus dan terus dipercepat, hingga kutemui kamar kecil itu yang biasa di pakai setiap harinya.

Lega rasanya perut ini setelah dikeluarkannya para pendemo yang tadi minta keluar itu. Alhamdulillah tercapai juga akhirnya.

Cerita di Balik Layar

Selain ingin jalan-jalan dan supaya bisa menghirup udara buatan, ada hal lain yang tidak kalah pentingnya, dan memang hal itu adalah intinya. Kesatu, ingin membangun kembali silaturahmi, kedua ingin mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya, walaupun sudah sebelumnya, tapi secara personal sebagai langkah simbolis belum, untuk itu ingin menemuinya, dan ketiga adalah mengclearkan semua masalah yang sudah dihadapi bersama supaya endingnya positif.

Satu hal lagi yang ketinggalan, yaitu kepentingan politis, tapi tidak usah dibahas karena itu rahasia. Cukup nanti saja langsung bila ketemu dijelaskannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.