Kenangan, Rilis Pertama Ketika Jadi Wartawan Sumeks

Pertengahan tahun 2013 merupakan awal dari realisasi hobi menjadi sebuah pekerjaan. Kala itu sulit melobi untuk menjadi seorang wartawan di salah satu surat kabar lokar terbesar di Kabupaten Sumedang. Maklum dalam persyaratan pembukaan lowongan pekerjaan yang tertera di Koran Harian Pagi Sumedang Ekspres, jika ingin menjadi wartawan di koran tersebut harus minimal pendidikan D3, sedangkan saya sendiri hanya lulusan SMK.

Sebelumnya saya kenal dekat dengan salah satu wartawan senior di Sumeks, singkatan Sumedang Ekspres, yang bernama Igun Gunawan. Melalui kedekatan dengan beliau akhirnya saya juga bisa mencoba-coba masuk menjadi salah satu wartawan di Sumeks, walaupun kala itu hanya sebatas uji coba, istilah formalnya freelance. Yaitu seorang wartawan lepas yang mengirim berita seadanya, tidak ditarget seperti wartawan yang sudah tetap status kerjanya.

Alhamdulillah, ceritanya saya boleh meliput dan belum mempunyai surat tugas kala itu, apalagi punya kartu pers, tapi dari hasil liputan bisa dimuat Rilisnya di Koran Sumedang Ekspres. Mungkin tidak bagus, akan tetapi rilis pertama saya di Sumeks merupakan hal yang bersejarah di hidup saya, yang selanjutnya saya mengalami hal yang luar biasa bersama Sumeks. Berikut rilis pertama saya di Sumeks :

Rumah Kosong Kebakaran

Kota,- Rumah tidak berpenghuni yang sudah lama ditinggal pemiliknya, subuh kemarin dilahap si jago merah, Kamis (11/4). Dari berkas LAPORAN-SEGERA Nomor LS/14/IV/2013 Sektor, milik Polsek Sumedang Utara yang diketahui wartawan kerugian ditaksir sekitar Rp. 300.000.000.

Diduga api berasal dari konsleting listrik, yang berasal dari dapur dan merambat ke bangunan rumah berukuran 14 X 40 Meter milik Dosen yang diketahui bernama Ela (55). “Katanya rumah ibu Dosen, banyak buku pelajaran yang terbakar,” tutur Agus Saepudin, Komandan Regu I, petugas pemadam kebakaran yang menangani kebakaran di Jalan Swadaya Nomor 51 (Lingkungan Panyingkiran) RT 03 RW 04 Kelurahan Kota Kaler, Kecamatan Sumedang Utara.

“Sejak dini hari sudah tercium seperti bau ban yang terbakar, kirain dari bengkel depan rumah ibu Ela, makanya saya terus saja berkeliling, ketika adzan shubuh baru api mulai terlihat di atap rumah,” ujar Maman (38), seorang petugas Linmas yang ikut menangani kebakaran yang tidak menelan korban jiwa itu.

Hal senada diungkapkan Totoh, tetangga rumah korban kebakaran, api mulai membesar sekitar jam 5 shubuh. “Bleug… jam 5 badagna mah, kosong imahna pampangna mah,” ucapnya.

Api pun berhasil dipadamkan sekitar jam 6.15 oleh petugas pemadam kebakaran yang dibantu warga masyarakat.

Ditempat terpisah, Kepala Seksi Ketertiban dan Kenyamanan Kelurahan Kota Kaler, Momon Dutarman, mengakui pihaknya telah meninjau langsung ke lapangan dan akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. “Bahwa listrik rumah harus dimatikan jika ditinggal pergi jauh, apalagi untuk jangka waktu yang cukup lama,” ungkapnya.

“Himbauan pun akan dilayangkan berupa surat edaran kepada RT/RW dan kepada warga untuk pencegahan kebakaran,” pungkas Momon. (Mamat Munandar)