Dear Pilkada DKI, Hasil Survey Jangan Dijadikan Tuhan Untuk Menentukan Calon Gubernur

Sudah menjadi rahasia umum untuk menjadikan seseorang sebagai calon pemimpin dinegeri ini dilihat dari hasil surveynya. Survey sendiri sengaja dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat dilapangan, namun tidak secara menyeluruh, hanya beberapa sample saja yang disebar merata ke setiap daerah dengan kemungkinan erornya rata-rata dibawah 5%.

Hasil survey memang bukan penentu kemenangan pasangan calon untuk pemimpin yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Tapi kebanyakan di setiap daerah, khususnya di pelosok bumi Indonesia, hasil survey selalu menjadi rujukan untuk menentukan calon mereka yang dipertandingkan secara demokratis.

Dinegeri demokrasi ini, seakan-akan hasil survey merupakan ‘bisikan Tuhan’ untuk menentukan calon pemimpin mereka. Entah calonnya itu memiliki kapasitas ataupun tidak, entah calonnya itu kapasitasnya menjadi ketua RT, tapi bisa saja ia dicalonkan jadi Bupati karena hasil survey berpotensi ia untuk menang.

Suara rakyat miskin sama masing-masing memiliki satu suara dengan orang kaya, pendidikan tinggi maupun rendah sama derajatnya dalam menentukan pilihan calon pemimpin mereka. Semua di ‘babat’ rata, entah dia tukang beca, tukang bubur, guru, kepala sekolah, dosen, PNS, hingga professor pun mereka memiliki derajat yang sama masing-masing bernilai satu suara. Suara yang terbanyaklah yang akan menentukan calon pemimpin mereka.

Karakter pemimpin yang sudah sejak ribuan lalu menjadi konsep dasar kepemimpinanpun seolah hilang sirna bak ditelan bumi. Kebanyakan sudah tidak dipakai lagi di era demokrasi seperti ini.

Beginilah realitanya, kalau seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan tapi ia tidak populer maka sangat sulit berjalan mulus duduk dikursi nomor 1. Menjadi realitas, para bakal calon pemimpin di era demokrasi ini rata-rata berlomba-lomba mencari perhatian masyarakat, supaya banyak rakyat tertarik kepadanya dan akhirnya memilihnya, hingga ia jadi pemimpin hasil pilihan rakyat.

Untuk itu, di era demokrasi ini, politik pencitraan sangat berpengaruh untuk mencuri hati rakyat, kapasitas, kapabilitas nomor sekian, yang penting disukai rakyat terlebih dahulu.

Kepopuleran seseorang kadang tidak sejalan dengan kemampuan ia untuk menjadi seoarang pemimpin, maka dari itu tak jarang artis sekarang yang malah berduyun-duyun mencalonkan diri jadi kepala daerah maupun anggota legislatif. Karena dengan bermodalkan kepopulerannya tak jarang banyak artis sekarang duduk di kursi dewan maupun jadi kepala daerah maupun wakilnya.

Untuk mencapai itu semua maka sekarang orang berlomba-lomba untuk mencapai popularitasnya yang positif, kemudian dibuktikan dengan hasil survey, jika pendapat surveynya tinggi, maka ia akan semakin percaya diri untuk mencalonkan Bupati/Walikota, Gubernur maupun Presiden.

Jadi, apa kata survey akan sangat menentukan keberlangsungan pencalonan seseorang. Pilkada DKI Jakarta misalnya, kita tahu bahwa petahanan pada awalnya akan maju sebagai calon independen. Akan tetapi gagal dan hingga pada akhirnya di usung oleh partai, yang menjadi menarik adalah, sang petahana itu justru dimasukan sebagai Calon Gubernur, sedangkan partai pengusung yang memiliki kursi terbanyak rela menyodorkan kadernya sebagai Calon Wakilnya saja. Karena memang, katanya, petahana memiliki hasil survey yang cukup tinggi untuk menang.

Ditambah lagi, ada dua partai yang mengusung Calon Gubernur dan Wakilnya justru bukan dari kadernya sendiri dan bahkan ada orang baru yang tiba-tiba muncul kemudian jadi Calon Gubernur, padahal sebelumnya tidak digadang-gadang sebagaimana diributkan oleh media.

Lebih parah lagi, ada yang dari militer dan PNS, institusi yang dinilai tidak boleh bepolitik ini, tiba-tiba ada dari kalangan mereka di usung oleh partai politik dan terpaksa mengundurkan diri.

Inilah realita demokrasi kita saat ini, bisa dikatakan tidak sehat, partai politik yang menjadi tulang punggung demokrasi saat ini kesulitan untuk melahirkan calon-calon pemimpin bangsa dimasa depan. Karena kenyataannya banyak pihak yang mendulang popularitas diluar jalur partai politik, akan tetapi ketika mencalonkan diri ia justru sangat membutuhkan partai politik.

Maka jangan terkejut, secara tiba-tiba diluar kader partai politik justru dicalonkan oleh partai politik, karena saat ini, ‘Tuhan’ yang menjadi penentu pencalonan kepala daerah maupun presiden adalah hasil survey. Semua pihak akan sangat mendengarkan petuahnya itu dan hasil survey lah yang sangat diperhitungkan untuk menentukan calon yang akan mereka usung, meskipun diluar kader partainya.

Sedangkan kriteria kepemimpinan sebagaimana diajarkan oleh nabi, yakni; Jujur, Amanah, Cerdas, Sopan serta bertanggung jawab dengan apa yang disampaikannya, sudah sangat jarang kita temui di era demokrasi ini.

Kejujuran seorang pemimpin sudah jarang kita temui lagi karena banyaknya agenda media yang menutupi kebobrokannya dan hanya prestasinya yang ditonjolkan. Cerdas, seseorang yang tidak punya kapasitaspun saat ini bisa dicitrakan oleh media untuk menjadi pemimpin bangsa ini, setiap pidato, penyampaiannya terhadap publik, bahkan apa yang akan di lakukan semuanya sudah bisa disetting saat ini dengan hanya menyewa seorang konsultan. Sopan apalagi, banyak kesopanan dihadapan rakyat hanyalah pencitraan belaka, tapi lebih parahnya lagi ada seorang petahana justru dengan bangganya dia bersikap tidak sopan dihadapan rakyatnya sendiri bahkan diliput oleh media. Bertanggung jawab dengan apa yang ia sampaikan, justru banyak pemimpin di negeri ini, termasuk ujungnya para pemimpin banyak berkata bohong. Apa yang ia bicarakan pada saat kampanye tidak ia lakukan ketika saat terpilih. Semua itu ternyata hanyalah bisikan para konsultan untuk menarik minat rakyat supaya memilihnya.

Kriteria pemimpin yang diajarkan rosululloh sudah tidak diperhitungkan lagi saat ini, semuanya akan kalah dengan hasil survey. Apa yang dikatakan survey itulah yang akan menjadi rujukannya untuk menentukan calon pemimpin, sedangkan ajaran Alloh, Tuhan semesta alam ini mau dikemanakan? Masih berlaku kah shalat istikharah untuk menentukan pemimpin terbaik di negeri ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.