Ku Pinang Kau Dengan Bismillaah

Assalamu’alaikum, wr, wb…

Tertarik dengan artikel kang Matmund tentang “Mapan Dulu Trus Nikah, atau Nikah Dulu Trus Mapan” membuat saya ingin membagikan pengalaman pribadi saya.

Mulai aja ya… yang saya alami adalah Nikah Dulu Trus Mapan

Seperti remaja pada umumnya saya mengalami masa “galau” saat ingin menikah karna saya dan suami belum punya apa-apa saat itu. Saya dengan suami dekat sejak kuliah, kami sekelas. Ya namanya juga mahasiswa pasti masih mengandalkan orang tua.

Tapi ditengah kegalauan itu, orang tua suami datang mengkhitbah, orang tua saya pun menerima pinangan orang tua suami. Padahal saat itu kami masih berstatus “mahasiswa” bahkan belum tentu lulus, karna masih dalam proses penyusunan skripsi. Kalo diibaratkan lagu “Ku Pinang Kau Dengan Bismillaah”.

Tapi saat itu kami dan orang tua kami berkeyakinan dimana ada niat baik pasti Allah memberikan jalan untuk kami. Sejak saat itu kami jadi lebih semangat menyelesaikan pendidikan kami. Singkat cerita kami lulus, dan lebih bersemangat mencari kerja karena kami punya tujuan ingin menikah.

Alhamdulillaah perjuangan kami tidak sia-sia dengan seizin Allah kami berdua mendapat pekerjaan. Suami bekerja di sebuah perusahaan makanan dengan status masih karyawan kontrak dan saya menjadi tenaga kontrak di pemerintahan. Sejak itu kami bersemangat mengumpulkan modal nikah. Dengan diuji oleh jarak karena suami bekerja di luar kota.

Status pekerjaan kami berdua masih “kontrak” tapi kami tetap yakin kami akan menikah karena kami selalu ingat dan selalu diberi nasihat serta mendengar dan mencari artikel-artikel tentang pernikahan bahwa “pernikahan itu akan membuka pintu rezeki, yang miskin saja akan dimampukan” dan Janji Allah itu Pasti. Asal kami berusaha ikhtiar dan berdo’a. Dengan seluruh keyakinan itu, kami memutuskan untuk menikah setahun setelah itu.

Setelah menikah, tepatnya 20 hari setelah menikah, suami diberhentikan dari pekerjaannya dengan alasan yang tidak jelas. Rumah tangga kami sudah diuji bahkan belum sebulan.

Masih dengan keyakinan kami bahwa menikah akan membuka pintu rezeki kami bertawakkal sambil terus berusaha dan berdo’a. Tidak putus harapan tidak putus asa suami terus mencari pekerjaan lagi, setiap job fair didatangi lewat online sudah pasti sudah tidak terhitung berapa puluh lamaran yang dikirim. Sebulan dua bulan berlalu tanpa kabar pasti, kami terus meyakinkan diri bahwa Janji Allah itu Pasti. Kami pasrah Lillahita’ala berserah diri pada Allah atas semua yang kami hadapi.

Alhamdulillaah dibulan ketiga kami mendapatkan kabar baik, 2 kabar baik sekaligus. Pertama saya hamil, lalu suami mendapatkan panggilan kerja. Saat itu setiap langkah suami mengikuti proses seleksi kerja diniatkan “ini adalah rezeki anak kami, Kun Faya Kun”.

Setelah proses seleksi yang ketat dengan seizin Allah suami mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan sebelumnya. Rezeki yang tidak disangka-sangka entah datang dari mana bahkan lupa pernah memasukan lamaran ke perusahaan tersebut. Tapi jika Allah sudah berkehendak, maka jadilah.

2 tahun berlalu, saat usia anak saya 1 tahun, saya memutuskan untuk berhenti bekerja karena anak sempat sakit sampai harus diopname dan suami meminta saya untuk berhenti bekerja. Masih dengan keyakinan yang sama, Rezeki itu jaminan Allah bagi setiap Umat-Nya yang bertaqwa. Alhamdulillah rezeki selalu ada dari mana saja lewat usaha atau jalan lain. Ibu lebih utama mengurus anak daripada bekerja, jika saya menjalankan syariat insyaallah Allah Ridho.

Setiap proses dalam pernikahan adalah pelajaran. Dari pengalaman itu kami selalu meyakini bahwa Menikah itu membukakan pintu rezeki, rezeki saya dan suami disatukan apalagi sudah ada anak. Karna janji Allah juga “setiap anak diturunkan dengan rezekinya masing-masing”. Dan Janji Allah itu Pasti.

So… untuk mahasiswa-mahasiswa yang masih galau untuk merencanakan pernikahan, jangan takut, menikah itu hal yang baik, menjauhkan dari dosa. Setiap niat baik pasti akan diberi jalan. Asal kita Yakin, berusaha, berdo’a… Lahaolaa wallaa kuwwata illaabillaah..

Saya selalu ingat pesan orang tua saya. Menikahlah dengan lelaki yang punya modal soleh, tanggung jawab dan sayang yang tulus. Karena bekerja masih bisa di PHK, harta masih bisa hilang atau habis. Tapi ketika lelaki bertanggung jawab, bila ia tidak punya pekerjaan dia akan mencari sekecil apapun itu yang penting halal.

Semoga pengalaman saya ini bisa bermanfaat bagi yang membaca.
Wassalamu’alaikum, wr, wb.

Oleh : Sri Puji Lestari

Asal : Garut, Jawa Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.